Minggu, 17 Agustus 2008

Trinitas (2)

Oknum-oknum Berbeda dengan Sifat-sifat Berbeda

Jika Tuhan Bapak, Yesus dan Ruhul Kudus merupakan tiga oknum dengan sifat-sifat pribadi yang sama sekali tidak dimiliki oleh yang lain, maka mereka tidak dapat dianggap sebagai "Tiga dalam Satu" dan "Satu dalam Tiga." Penyatuan total dari Trinitas menjadi Kemanunggalan hanya dapat dimengerti apabila karakter-karakter, sifat-sifat, fungsi-fungsi dan segenap kemampuan yang dimiliki oleh ketiga oknum menjadi sama satu sama lain, tanpa adanya perbedaan apapun yang membedakan satu sama lain.

Hal ini mengetengahkan sebuah skenario yang dalam tahap tertentu dapat disukai, yakni kembar tiga yang mirip, yang akal oknum berbeda yang tidak memiliki status yang setara serta sifat sifat yang sama.

Dalam contoh ini, hanya ada satu yang layak disembah dan dua oknum lainnya yang secara logika sebagai wujud lebih rendah, diharapkan menyembah yang satu itu. Jawabannya, sekali lagi, dapat diterima kecuali bahwa "Kemanunggalan dalam Trinitas" itu akan punah. Tidak mungkin bagi anda untuk menerima "Tiga dalam Satu" dan "Satu dalam Tiga" keduanya sekaligus.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah lelucon yang ingin saya ceritakan bersama anda. Dikisahkan bahwa Joha, seorang pelawak istana terkenal, begitu menggelikan bagi Timurleng pada waktu penyerbuannya ke Baghdad, sehingga dia memutuskan untuk membawanya sebagai pampasan perang dan menunjuknya sebagai kepala pelawak istana. Suatu kali dikisahkan bahwa Joha merasa ingin sekali makan daging sendirian sehingga dia tidak dapat menahannya lagi.

Maka dia membeli dua kilo daging terbaik yang tersedia di tukang daging. Ketika menyerahkan daging tersebut kepada istrinya, dia memerintahkannya agar menyiapkan daging panggang lezat dari itu, dan tidak ada yang boleh menyentuhnya, termasuk istrinya kecuali dia. Akan tetapi malangnya bagi Joha, begitu istrinya selesai masak, beberapa saudara istrinya datang secara mengejutkan. Hal itu merupakan kejutan yang menyenangkan bagi sang istri, tetapi bakal menjadi kejutan yang tidak mengenakkan bagi Joha.

Aroma menggoda dari daging yang baru saja dipanggang itu terlalu menggoda bagi mereka untuk dihindari, dan apa yang terjadi berikutnya sudah dapat ditebak secara logika. Setelah selesai menyantapnya, mereka dengan senang hati pamit kepada saudara perempuan mereka yang tampak agak risau itu. Akhirnya sang istri mempersiapkan diri dengan alasan yang tepat manakala Joha pulang ke rumah. Ketika Joha juga mencium bekas makanan, dengan rasa ingin tahu yang besar dia menanyakan dagingnya yang dua kilo tadi, maka sang istri memberikan tanggapan dengan menunjuk pada kucing peliharaan kesayangan Joha, dan berkata: "Ambillah dagingmu dari kucing ini, jika engkau bisa. Ketika saya sibuk bekerja, kucing ini telah menghabisi semua daging panggang." Atas hal itu Joha langsung mengambil kucing itu dan menimbangnya di timbangan.

Ternyata si kucing beratnya pas dua kilo. Lalu dia dengan lembut berbalik ke istrinya dan menanyakan: "Wahai sayangku, saya memang percaya kepada kamu, tetapi jika ini daging yang saya beli, maka mana kucing saya; dan jika ini kucing saya, maka mana daging milik saya!"

Terlepas dari lelucon itu, izinkan saya menegaskan bahwa saya tidak ingin mempertentangkan perkara ini berdasarkan ajaran-ajaran Yesus yang asli dan benar. Makalah ini murni merupakan suatu sikap dalam memandang doktrin-doktrin Kristen masa sekarang yang kami percayai telah mengalami penyimpangan jauh dari ajaran-ajaran asli Yesus.

Setelah ditolak bahwa di dalam Bible terdapat rujukan untuk menyembah Yesus, tinggal bagi kita menjelaskan satusatunya referensi yang.berkaitan dengan itu, di dalam Lukas 24:52. Banyak yang mengaku bahwa ayat-ayat ini membuktikan bahwa Yesus sendiri mendesak para pengikutnya untuk menyembah beliau. Para ilmuwan Kristen zaman sekarang tahu betul bahwa ayat-ayat ini terbukti palsu dan tidak berhak disikapi sebagai bagian asli Injil Lukas.

Mari kita beralih pada masalah kebiasaan yang berlaku secara umum, apakah hal itu didukung oleh bukti dalam Injil-injil atau tidak? Berdasarkan kebiasaan yang berlaku secara umum, di banyak sekte Kristen masa kini, Yesus memang disembah sebagai Anak Tuhan, akan tetapi mereka semua sepakat bahwa Yesus yang mereka sembah itu selalu menyembah Tuhan Bapak dan hanya pada-Nya.

Dengan sia-sia saya sering menanyakan kepada para ilmuwan Kristen yang berpengetahuan tinggi, apa dasarnya sehingga Yesus harus menyembah Tuhan Bapak bila beliau sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan dan benar-benar menyatu dengan-Nya sehingga menimbulkan kemanunggalan meskipun terdapat tiga oknum? Apakah beliau pemah menyembah oknum ketiga dalam Trinitas, yaitu Ruhul Kudus? Apakah beliau pemah menyembah diri beliau sendiri?

Apakah Ruhul Kudus pemah menyembah Yesus? Apakah Tuhan Bapak pernah menyembah salah satu dari kedua oknum lainnya? Jika tidak, mengapa? Mungkin jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan ini akan memaksa orang-orang Kristen mengakui bahwa suatu superioritas nyata sangat pasti dimiliki oleh Tuhan Bapak atas kedua oknum lain dalam Trinitas. Dari hal itu tampak bahwa ketiga oknum Trinitas tidaklah sama dalam status mereka. Oleh karenanya mereka merupakan "Tiga dalam Tiga," jika mereka memang tiga, tetapi mereka bukanlah "Tiga dalam Satu."

Kadang-kadang tatkala para ilmuwan Kristen dihadapkan pada pesoalan Yesus, yang mereka imani sebagai Anak Tuhan, yakni Yesus sendiri menyembah Tuhan Bapak, maka mereka menyatakan bahwa unsur manusia [dalam diri Yesus] lah yang melakukan penyembahan terhadap Tuhan Bapak, bukan Yesus Anak Tuhan yang melakukannya. Hal itu membawa kita kembali kepada pembahasan yang telah kita lakukan sebelumnya. Apakah di situ terdapat dua wujud sadar yang menguasai tubuh Yesus yang sama, yakni yang satu menguasai kesadaran sebagai manusia dan satu lagi menguasai kesadaran sebagai Anak Tuhan?

Sekali lagi, mengapa si manusia itu telah melewati dan benar-benar mengabaikan si Anak Tuhan yang ada dalam dirinya dan tidak pernah menyembah Kristus? Manusia Yesus yang sama, rekan [satu tubuh] Kristus, seharusnya juga menyembah Ruhul Kudus si oknum ketiga, yang tidak pemah beliau lakukan.

Penyembahan adalah suatu perbuatan akal pikiran dan jiwa yang kadang-kadang diungkapkan dalam simbol-simbol [gerakan] tubuh, tetapi perbuatan itu tetap berakar pada jiwa dan emosi oknum yang melakukannya. Oleh sebab itu harus ditentukan siapa yang melakukan penyembahan tatkala Yesus Kristus menyembah Tuhan. Kita sudah menyimak skenario itu, dengan segala, keruwetannya, yang mana Kristus si Anak Tuhan lah yang telah melakukan penyembahan. Sebaliknya, jika [unsur] manusia [dalam diri Yesus] yang menyembah Tuhan Bapak dan jika dia tidak pernah menyembah Kristus, maka mengapa orang-orang Kristen menentang tauladan suci Yesus itu? Mengapa mereka mulai menyembah Kristus selain Tuhan, sedangkan Yesus si manusia tidak pernah menyembah rekannya, Kristus, meskipun sangat dekat dengannya.


Oknum-oknum Berbeda dengan Sifat-sifat yang Sama dan Seimbang

Sekali lagi mari kita amati sekarang, dari sebuah sudut lain kali ini, formula "Tiga dalam Satu" pada Trinitas sebagai tiga oknum berbeda yang benar-benar dan sungguh mirip satu sama lain. Dalam skenario ini kita tidak berbicara tentang seorang oknum tunggal dengan ciri-ciri berbeda yang telah terangkai menjadi satu, tetapi dalam tiga bentuk terpisah, lebih menyerupai kembar tiga. Kita merujuk pada jenis kembar tiga yang benar-benar mirip sehingga kemiripan mereka tidak berakhir pada kesamaan bentuk saja, tetapi juga meliputi seluruh proses pemikiran dan perasaan. Mereka mengalami sama-sama secara identik pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan, dan pengalaman-pengalaman mereka. Dalam kasus ini orang harus mengakui bahwa dua dari ketiga oknum Trinitas memiliki kelebihan. Jika mereka menghapuskan [kelebihan] tersebut, maka tidak akan sempuma oknum lainnya dalam Trinitas.

Alquran Suci juga mengetengahkan persoalan yang sama ketika memaparkan bahwa jika Tuhan memutuskan untuk memusnahkan dan menghapus keberadaan Yesus Kristus dan Ruhul Kudus, apa perbedaan yang timbul pada Keagungan, Keabadian dan Kesempumaan-Nya, dan siapa yang dapat menghalangi-Nya berbuat demikian (QS 5:18). Hal itu secara tidak langsung menyatakan bahwa segenap sifat Tuhan akan berfungsi secara abadi, dan dalam kondisi demikian konsep Trinitas seperti yang telah digambarkan dalam skenario ini tampil tidak bermakna dan tidak berguna.

Akan tetapi jika diandaikan, ketiga oknum berbeda yang terdapat dalam Trinitas itu menjalankan fungsi-fungsi berbeda, maka jelas bahwa ketiga komponen itu akan menjadi sangat penting untuk membentuk [rangkaian] Tuhan. Meskipun demikian, dalam kasus ini terdapat tiga Tuhan berbeda yang bekerja-sama satu sama lain dan hidup bersama dalam keharmonisan sempuma, dan dalam kondisi demikian mereka hanya dapat diperlakukan sebagai "Tiga Tuhan dalam Tiga," bukannya "Tiga Tuhan dalam Satu."

Sekali lagi, jika dikemukakan bahwa Trinitas adalah sama seperti kasus satu oknum tunggal dengan tiga fungsi organ yang berbeda, kesemuanya terjalin dalam kemanunggalan, maka sudah tentu Keesaan dapat dipertahankan, bukannya Trinitas. Di sini kita tidak membicarakan tentang satu oknum tunggal dengan fungsi--fungsi organ yang berbeda, tetapi tiga oknum yang benarbenar mirip, dan masing-masing melakukan fungsi-fungsi yang sama tetapi tetap memiliki kepribadian sendiri. Apa yang telah dibahas ini memaparkan kasus satu oknum tunggal dengan organ-organ berbeda. Jadi, sejauh ini tidak ada yang tidak masuk akal dalam hal itu.

Namun, ketika organ-organ diperlakukan sebagai oknum-oknum dengan hak mereka masing-masing, dan pada saat yang sama mereka dipercayai sebagai satu kepribadian yang dalam keterpaduannya merupakan tunggal, maka batas-batas logika pun dilanggar dan seluruh pembahasan menjadi tidak layak diakui. Memang organ-organ memiliki kepribadian mereka sendiri, tetapi kepribadian mereka hanya merupakan sebuah komponen dari sebuah kepribadian lebih besar, yang tidak hanya terdiri dari satu organ tetapi juga organ-organ lain. Seluruh organ tersebut dalam perpaduan mereka bersama dalam diri seorang manusia, disebut "manusia seutuhnya".

Memang beberapa organ menjalankan fungsi-fungsi yang relatif kecil, dan manusia dapat saja tetap menjadi manusia tanpa keberadaan organ-organ tersebut, hanya saja tidak sempurna. Seorang manusia sempurna harus memiliki seluruh organ yang umum dimiliki oleh seorang manusia dan perpaduan seluruh organ ini membuatnya menjadi seorang manusia sempurna.

Jika kita mengambil kasus seorang manusia yang disebut Paul, orang tidak dapat mengatakan bahwa dikarenakan hati, jantung, paru-paru dan ginjal Paul memiliki individualitas dengan fungsi-fungsi khusus yang harus dijalankan, maka [organ-organ] itu merupakan oknumoknum berbeda yang secara menyeluruh persis seperti Paul. Kemiripan total hanya mungkin [terjadi] apabila, katakanlah, ginjal-ginjal itu berfungsi persis seperti Paul dalam keseluruhan dirinya, dan hal yang sama dapat dikatakan bagi organ-organ lain miliknya. Hal ini menghendaki bahwa tidak adanya masing-masing organ itu tidak akan merubah sifat Paul dalam makna apapun, atau pada pilihan lain, Paul tanpa paru-paru, hati, ginjal dan otaknya, dan segenap organnya dicabut, tetap akan merupakan seorang Paul yang sempuma dirinya. Hal itu disebabkan pada analisa terakhir, mereka semua benar-benar identik satu sama lain, dan si oknum Paul tetap utuh secara mutlak, terlepas dari tidak adanya organ-organ tersebut.

Jika, demikian skenario "Tiga dalam Satu," maka sudah tentu keliru untuk mencoba melakukan kritikan terhadap kepercayaan Kristen dengan merujuk pada logika. Dan logika yang dapat diterapkan terhadap dogma Kristen zaman sekarang ini hanyalah logika si nenek sihir Macbeth ketika mereka mengatakan: "Adil adalah curang, dan curang adalah adil." (Fair is foul, and foul is fair).
Selengkapnya =>>

Jumat, 15 Agustus 2008

Trinitas (1)

Sejauh ini kita hanya menelaah hal-hal pokok yang mengarah kepada terciptanya dongeng-dongeng mempertuhankan Yesus dan apa yang disebut peran beliau dalam Trinitas sebagai Anak Tuhan. Namun, oknum ketiga dalam dogma Trinitas Kristen, yakni Ruhul Kudus, merupakan sebuah teka-teki. Mengapa "Dua dalam Satu" tidak mencukupi, dan mengapa harus mengemukakan pihak ketiga dalam doktrin dasar ini? Secara akal, oknum ketiga ini tidak memiliki kebenaran untuk menempati sebuah posisi dalam konsep Kristen tentang tuhan-tuhan.

Harnack, seorang penafsir dalam masalah ini, merasakan bahwa pada mulanya, Kristen diwakili oleh suatu tuhan gabungan, yaitu Tuhan dan Yesus. Kemudian meliputi gereja, [dan] menyebutnya sebagai Ruh, untuk menambahkan elemen ketuhanan kepada apa yang jika tidak demikian akan menjadi partner ketiga yang hampa dan tidak masuk akal. Hal ini juga berfungsi sebagai alat ampuh anti Yahudi.1 Pendeta K.E.Kirk dalam eseinya, The Evolution of the Doctrine of Trinity, telah mengatakan hal berikut ini untuk masalah yang sama:

Kita secara alamiah beralih kepada para penulis zaman itu untuk mengetahui apa yang menjadi landasan bagi keimanan mereka. Kami terkejut, ternyata kami terpaksa mengakui bahwa mereka tidak memiliki landasan apa pun. Pertanyaannya sebagaimana yang tampil bagi mereka tidak hanya ‘mengapa’ tiga oknum? Melainkan, lebih cenderung ‘mengapa tidak?'

Dia terus menunjukkan kegagalan total teologi Kristen untuk menciptakan pembenaran/dukungan logika bagi doktrin Trinitas dan ketiga tuhan Kristen dapat dijelaskan secara pokok sebagai konsep sepasang tuhan yang padanya dipautkan oknum ketiga yang berbeda, untuk membuat gambaran yang lebih sempurna.2

Kami percaya bahwa oknum ini secara bertahap berubah di bawah pengaruh falsafah-falsafah dan dongeng-dongeng para penyembah berhala sebelumnya yang banyak terdapat di kerajaan Romawi. Pertukaran pemikiran tentunya telah membuat para theolog Kristen menetapkan posisi Ruhul Kudus. Dengan didapati banyaknya bukti keberadaan kepercayaan-kepercayaan seperti itu atau sekte-sekte yang menggambarkan Tuhan sebagai tiga oknum dalam satu wujud, tidaklah sulit untuk melacak kembali sumber asli doktrin Kristen tentang Trinitas. Ringkasnya, bila dua dapat menjadi satu, dan satu dapat menjadi dua, mengapa tidak tiga menjadi satu saja? Merupakan tugas para ilmuwan peneliti untuk menetapkan secara tepat bila dan bagaimana oknum ketiga dalam rangkaian tuhan Kristen telah mulai berakar kuat dalam dongeng Kristen, tetapi pada saat ini hal itu di luar pokok pembahasan. Di sini, kami hanya ingin menguji kemustahilan penda'waan-penda'waan semacam itu, yang telah ditolak langsung oleh pemahaman manusia. Fitrat manusia menolak dengan tegas pemikiran-pemikiran yang saling bertolak-belakang dan berupa paradoks.


Antar Hubungan dalam Trinitas

Apabila orang membayangkan hubungan sesama di antara ketiga oknum tuhan-tuhan Kristen, maka seknarioskenario yang mungkin timbul hanyalah sebagai berikut:

a) Mereka memiliki tahapan-tahapan dari aspek-aspek yang berbeda dari satu oknum tunggal.

b) Mereka merupakan tiga oknum berbeda, yang samasama menikmati keabadian setara di antara mereka.

c) Mereka merupakan tiga oknum dengan beberapa sifat individual yang berbeda dan sama sekali tidak dimiliki oleh yang lain.

d) Mereka merupakan tiga oknum dalam satu, dengan sifat yang seluruhnya sama dan kekuatan-kekuatan yang setara, bergabung satu sama lain, dan tanpa fungsifungsi yang terpisah satu sama lain.

Kita akan bahas masing-masing kemungkinan secara berurutan.


Tahapan-tahapan dan Aspek yang Berbeda dari Satu Oknum

Kemungkinan pertama tidak perlu dibahas panjang lebar sebab hampir tidak ada orang Kristen zaman sekarang yang lebih mengimani Yesus sebagai sebuah aspek atau salah satu fase Tuhan, daripada mengimani beliau sebagai satu oknum berbeda. Orang-orang yang percaya pada Trinitas bersikeras bahwa terdapat tiga oknum berbeda yang menyatu menjadi satu.

Pada saat seseorang mengakui skenario bahwa satu oknum memiliki aspek-aspek berbeda yang ditampilkan secara bersamaan, maka konsep Trinitas, yakni tiga tuhan dalam satu, akan menguap jadi udara, dan Trinitas tidak tersisa lagi. Sehingga, sang Tuhan Bapak lah, tergerak oleh kasih-sayang-Nya, yang mati demi dosa-dosa manusia. Dalam kasus ini hal itu hanya merupakan suatu fase peralihan dari oknum yang sama. Aspek-aspek bukanlah oknum, dan demikian pula fase-fase tidaklah menciptakan wujud yang terpisah. Manusia mana pun dapat menjalani berbagai macam perasaan dan aspek, tanpa harus terbelah menjadi dua atau tiga atau banyak oknum. Oleh karena itu, jika Tuhan memutuskan untuk mati demi manusia yang penuh dosa, itu adalah Tuhan sendiri dan bukan aspek-Nya yang melakukan hal tersebut.

Oleh sebab itu, mengenai kasus yang menjadi perhatian ini, yakni aspek Tuhan yang telah memainkan sebuah peran vital dalam pengorbanan Tuhan demi manusia yang penuh dosa, hanya dapat dipahami sebagai penampakan satu sifat-Nya. Jadi, jika sifat kasihsayang Tuhan itu sendiri diperlakukan sebagai seorang 'oknum' dan oknum tersebut telah dinamakan Yesus Kristus, maka yang telah mati itu adalah 'kasih-sayang' Tuhan. Sungguh merupakan kontradiksi aneh, bahwa kasih-sayang Tuhan karena iba terhadap manusia yang penuh dosa lalu melakukan aksi bunuh diri. Hal itu secara tidak langsung mengungkapkan bahwa selama tiga hari tiga malam tidak ada sifat kasihsayang yang tertinggal pada diri Tuhan.

Ingat, dalam skenario ini, Yesus tidak diperlakukan sebagai suatu oknum terpisah yang berdiri sendiri, melainkan hanya sebagai sebuah sifat atau aspek Tuhan, yang dalamnya beliau menjadi semacam kasih-sayang yang menjelma sebagai wujud. Akan tetapi wujud ini tetap merupakan satu unsur yang tidak terpisahkan dari Tuhan. Jadi, jika ada yang telah mati dalam proses tersebut, hal itu mestilah wujud Tuhan, atau sifat kasih-sayang-Nya yang telah memainkan peran sangat vital dalam episode ini. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain kecuali mempercayai kematian sifat kasih sayang Tuhan, atau kematian Tuhan Yang Maha Pengasih itu sendiri.

Banyak kerumitan yang timbul dari penda'waan bahwa aspek-aspek seorang oknum tunggal dapat dihapuskan dari keberadaannya, untuk sementara atau selamanya. Skenario ini hanya dapat dipahami dalam kaitan dengan penerapannya pada apa yang dialami manusia. Seorang manusia dapat kehilangan penglihatan atau pun pendengaran untuk sementara atau selamanya, tetapi dia tetap merupakan orang hidup yang sama. Kematian suatu kemampuan, memang merupakan kematian parsial bagi orang yang sama. Dalam analisa utama, orang yang kehilangan atau mengalami hal itu tetap merupakan orang yang sama.


Oknum-oknum Berbeda Menikmati Keabadian Bersama

Jika elemen-elemen rangkaian tuhan Kristen merupakan tiga oknum berbeda yang secara bersamaan menikmati keabadian, pertanyaan yang timbul adalah tentang hubungan internal mereka. Jika mereka secara azali merupakan tiga oknum yang membentuk satu tuhan, maka mereka tentu memiliki ego masing-masing, sehingga penderitaan salah satu di antara mereka, jika memang dapat menderita, merupakan hal yang dialami oleh oknum itu sendiri secara pribadi. Yang lainnya dapa bersimpati terhadapnya, tetapi secara nyata tidak dapat ikut dan merasakan penderitaan itu. Sudah tentu hampir tidak mungkin membayangkan cara kerja pemikiran dan proses pengambilan keputusan pada Tuhan, tetapi penda'waan bahwa Dia benar-benar terdiri dari tiga oknum yang bergabung jadi satu, membenarkan suatu upaya untuk 'mengaitkan tiga proses pemikiran yang berdiri sendiri.

Satu skenario yang mungkin timbul adalah, tentang seorang anak manusia yang lahir dengan tiga kepala. Ketiganya dapat dinyatakan sebagai satu oknum tunggal, berdasarkan pada keberadaan hanya satu tubuh saja dan sepasang tungkai serta lengan, tetapi ketiga kepala menampilkan permasalahan dalam menyatakan kondisinya yang sebenamya. Jika keanehan alam seperti itu hidup cukup lama untuk mampu berbicara dan memaparkan sendiri diri mereka, barulah kita dapat menyelidiki apa yang berlangsung di dalam ketiga kepala yang berbeda itu. Dengan tidak adanya pengetahuan tentang itu, menyatakan mereka sebagai satu oknum yang berkongsi memiliki tiga akal pikiran, atau tiga oknum yang berkongsi memiliki satu tubuh, tidaklah mungkin.

Anehnya, aspek sangat penting dalam doktrin Kristen ini sama sekali tidak diuraikan dalam Bibel. Sejauh yang berkaitan dengan rujukan tentang Kristus dan Ruhul Kudus, tidak kurang bukti yang menyatakan bahwa mereka ditampilkan sebagai dua oknum berbeda, yang tidak berkongsi dalam hal proses pemikiran yang sama dan perasaan-perasaan yang sama. Jika tidak, bayanganbayangan Ruhul Kudus yang berbeda dengan Kristus akan tidak mungkin dipahami, khususnya selama periode ketika Yesus terkurung dalam tubuh manusianya.

Pertanyaan-pertanyaan yang pasti timbul berkenaan dengan apa yang benar-benar telah terjadi pada oknum Kristus selama pengalaman tersebut, dalam kaitannya dengan dua oknum lain pada sosok tuhan Kristen adalah:

Apakah kedua oknum lainnya, yakni Tuhan Bapak dan Ruhul Kudus, bersama-sama menghuni tubuh Yesus Kristus atau sama-sama mengalami pengalamanpengalaman beliau dalam kaitan mereka dengan tubuh itu?

Apakah Yesus sendiri yang menghuni tubuh tersebut, dan dengan demikian beliau tidak mengikut-sertakan kedua oknum Trinitas lainnya dalam pengalaman beliau yang berkait dengan tubuh itu?

Penjabaran nomor satu sudah dibahas. Berkenaan dengan nomor dua, kerumitan lebih lanjut timbul mengenai hubungan Yesus, pada waktu itu dengan kedua oknum Trinitas lainnya. Apakah Yesus merupakan wujud yang terpisah sepenuhnya saat itu, atau beliau tetap merupakan bagian integral dari kedua oknum lainnya, hanya saja beliau memiliki kelebihan menghuni sebuah tubuh manusia secara terpisah? Sekarang kita memiliki pertanyaan lain untuk dijawab:

Apakah wujud ketuhanan beliau sepenuhnya terkandung dalam tubuh manusia beliau, ataukah hanya muncul sendirian keluar dari bentuk Tuhan Bapak dan Ruhul Kudus yang dimiliki bersama-sama, seperti sebuah jari kecil yang muncul dari tubuh seekor amuba?

Skenario ini juga akan memaksa kita mempercayai bahwa selama fase tersebut Yesus lebih hebat dari kedua oknum lainnya, sebab beliau sama-sama mengambil bentuk keberadaan wujud dengan Tuhan Bapak dan Ruhul Kudus, sedangkan kedua lainnya tidak menempati wujud manusia beliau.

Oleh sebab itu, untuk membuat persoalan ini lebih mudah dimengerti, dilakukan upaya untuk memberikan ilustrasi pada pikiran mereka, hati mereka, perasaanperasaan mereka dan fungsi-fungsi organ mereka berada dalam suatu keterpaduan sempurna sedemikian rupa sehingga pengalaman individu masing-masing mereka dapat dirasakan oleh yang lain secara penuh. Jika hal ini terjadi, ,maka Trinitas antara Tuhan, Anak dan Ruhul Kudus jadi lebih dapat dimengerti. Namun, tetap saja masih ada persoalan menyangkut tiga tubuh yang mengandung tiga oknum identik. Hal ini sudah tentu tidak dapat diterapkan pada pemahaman Trinitas Kristen.

Pada pandangan kedua, orang terpaksa membayangkan satu tubuh yang memiliki tiga identitas. Tetap saja, identitas demikian yang dimiliki oleh apa yang disebut kembar tiga, hanya dapat dibayangkan apabila satu tubuh mengandung tiga oknum, yang di dalamnya sendiri tampil banyak permasalahan. Akan tetapi dapat dijelaskan bahwa Tuhan tidak mempunyai tubuh, dan sesuatu yang menyerupai tubuh manusia, seperti yang telah dikemukakan, tidak dapat diterapkan untuk-Nya. Sudah tentu, kami sepenuhnya mengerti bahwa Tuhan tidak mempunyai tubuh seperti dalam istilah manusia, tetapi tetap masih ada permasalahan mengenai tiga wujud ruhani sebagai kembar tiga yang identik, secara individu mereka adalah oknum-oknum, tetapi yang merupakan satu dalam semua segi lainnya.

Permasalahan lain yang akan menghadang keberadaan [tuhan] kembar tiga secara hipotesa adalah hubungan mereka dalam kaitan dengan penyembahan. Apakah oknum-oknum ruhani "Tiga dalam Satu" rangkaian tuhan [Kristen] itu saling menyembah satu-sama lain? Apakah mereka semua akan memperoleh penyembahan dari makhluk-makhluk ciptaan mereka tanpa mereka harus menyembah dalam hubungan mereka satu sama lain?

Walaupun pemaparan berulang kali terdapat di dalam Perjanjian Baru bahwa Yesus Kristus yang menyembah Tuhan Bapak dan mengingatkan orang lain untuk melakukan hal sama, tetapi tidak ada penjelasan yang telah dibuat mengenai penyembahan Ruhul Kudus terhadap Tuhan Bapak. Dan lagi, tidak pernah ada upaya Yesus, seperti yang tertera dalam Perjanjian Baru, untuk mendesak orang-orang lain agar menyembah beliau atau menyembah Ruhul Kudus. Orang jadi bertanya-tanya, sebab tidak ada rujukan tentang penyembahan selain yang berkaitan dengan Tuhan Bapak.

Walaupun sudah merupakan tradisi umum di kalangan umat Kristen untuk menyembah Yesus sebagai Anak Tuhan bersamaan dengan Tuhan Bapak, tidak ada contoh-contoh yang tercatat tentang seorang murid Yesus Kristus pemah menyembah beliau, atau Yesus mendesak mereka untuk melakukan hal itu selama beliau menetap di bumi. Bahkan kalau pun beliau pemah berbuat demikian, hal itu akan menimbulkan banyak pertanyaan yang tak terjawabkan. Demikian pula yang berlaku bagi Ruhul Kudus, dan timbul pertanyaan, mengapa Ruhul Kudus tidak meminta siapa pun untuk menyembahnya.

Dalam masalah bahwa mereka adalah "Tiga dalam Satu" dalam arti bahwa ego utama mereka atau kesadaran akan keberadaan mereka tetap satu, walaupun terbagi dalam tiga aspek atau fase, telah dipelajari panjang lebar. Suatu wujud yang demikian secara logika tidak dapat disebut "tiga oknum dalam satu." Selain itu, aspek-aspek atau fase-fase tidak pemah disembah dan tidak pula mereka menyembah ego sentral mereka. Untuk memahami mereka sebagai oknumoknum yang terpisah, mereka harus memiliki identitas masing-masing yang berdiri sendiri, dalam bentuk ego pokok yang memberikan rujukan pada kesadaran mereka sebagai oknum-oknum. Jika tidak, masalah rujukan terhadap diri mereka dan lainnya sebagai "saya", "kamu" dan "dia," tidak akan timbul.

Trinitas yang diterapkan bagi satu wujud hanya akan dapat dipahami sebagai sifat-sifat dan tidak lebih dari itu.

Dan sejauh yang berkaitan dengan sifat-sifat, sudah pasti tidak terbatas hanya sampai tiga saja. Tidak peduli apakah kita tahu atau tidak, Tuhan pasti memiliki berbagai sifat.

Untuk menyimpulkan pembahasan ini, kami menegaskan kembali bahwa masalah penyembahan dalam kaitan antara mereka satu sama lain hanya dapat timbul jika mereka merupakan oknum-paradoks dan kemustahilan yang sudah menjadi bawaan itu dengan cara membayangkan kondisi telaahan yang berbeda. Sudah tentu, ilustrasi-ilustrasi ini hendaknya jangan dipahami secara harfiah oleh para pembaca.

Permasalahan yang ada di hadapan kita adalah, apakah seorang oknum tunggal itu menampilkan sifat-sifat yang berbeda atau menjalani fase-fase yang berbeda. Hal ini membawa kita pada pertanyaan tentang masalah "Tiga Wujud dalam Satu" dan "Satu Wujud dalam Tiga," khususnya dari segi fase-fase yang berbeda satu sama lain; dan penampakkan sifat-sifat serta suasana hati yang berbeda oleh oknum yang sama.

Masalah ini telah disinggung panjang lebar pada bab sebelumnya. Di sini, hal itu hanya perlu ditegaskan kembali pada permasalahan bahwa jika seorang oknum atau satu wujud menampilkan fase-fase yang berbeda, ia tidak dapat menampilkan fase-fase berbeda tersebut secara bersamaan, tanpa membelah dirinya menjadi bagian-bagian yang berbeda.

Ambillah, misalnya, air dalam ukuran dan jumlah tertentu. Air itu dapat diubah seluruhnya menjadi uap atau es tanpa meragukan wujudnya yang tetap satu. Jika air itu secara simultan dicermati dalam fase-fase yang berbeda itu, ia harus dipecah menjadi sedemikian rupa sehinga sepertiga bagiannya akan menjadi es, sepertiga menjadi uap dan sepertiga lagi tetap mencair. Masing-masing bentuk akan berbeda satu sama lain, tanpa menjalani dua fase lainnya secara beriringan. Jumlah air akan terpecah menjadi tiga kondisi, tetapi ukurannya pasti akan lebih kecil dari seluruh substansi jika disatukan, dan tidak ada yang dapat menyatakannya "satu dalam tiga" dan "tiga dalam satu." Demikian pula, perwujudan Kristus dalam bentuk manusia Yesus, sementara tetap terjalin ikatan menyatu antara Yesus si manusia dengan Tuhan Bapak, adalah suatu hal yang tidak dapat dipahami.

Seluruh umat manusia terbentuk dari elemen-elemen yang sama, tetapi kemiripan dan kesamaan mereka satu sama lain tidak membuat mereka menjadi satu oknum tunggal. Adalah sifat-sifat,kepribadian-kepribadian dan keterpisahan mereka satu sama lain yang membuat mereka terbagi-bagi dalam banyak wujud, walaupun mereka pada hakikatnya terbuat dari substansi yang sama. Orang tidak dapat menyebut mereka sebagai "satu dalam lima milyar" dan "lima milyar dalam satu," walaupun mereka sama-sama memiliki unsur manusia.

Mari kita telaah pertanyaan yang sama dari sudut lain. Jika, dalam jangka masa tertentu, Yesus terpisah dan dapat dibedakan dari Tuhan Bapak di satu sisi, dan dari Ruhul Kudus di sisi lain maka di mana letak keterpisahan eksistensi Kristus yang berbeda itu? Ingat, orang harus memahami bahwa Kristus yang secara total berbeda dan terputus dari Tuhan Bapak dan Ruhul Kudus. pengorbanan beliau demi saudara-saudara manusia beliau, atau dapat kita katakan sebagai separuh saudara manusia beliau, harus dianggap sebagai pengalaman pribadi beliau sepenuhnya, berbeda dari Tuhan Bapak atau Ruhul Kudus. Hal ini secara jelas menghasilkan pertimbangan kami bahwa Kristus seorang diri yang mentransfer akal pikirannya atau proses pemikirannya kepada tubuh jasmani Yesus. Demikian pula dapat dipahami bahwa beliau menjalani suatu pengalaman yang tidak dialami oleh dua unsur lainnya dalam Trinitas Kristen. Memusingkan kepala, tidakkah demikian?

1. Harnack. Constitution and Law of the Church, E.T. p 264 116
2. Essay on the Trinity and the Incarnation, diedit oleh A.E.J. Rawlinson, Logmans, London (1928)
Selengkapnya =>>

Selasa, 05 Agustus 2008

Hidup Kembali ataukah Kebangkitan Kembali? (3)

Kenaikan

Masalah Kenaikan Yesus Kristus tidak disentuh oleh Matius dan Yahya dalam Injil-injil mereka. Tidak adanya pemaparan peristiwa penting seperti itu menimbulkan tanda tanya pada orang.

Dua Injil yang memaparkan Kenaikan [Almasih] hanyalah Markus2 dan Lukas3 . Namun, penelitianpenelitian yang ilmiah dan mendalam telah membuktikan bahwa hal-hal yang terkandung dalarn kedua Injil ini merupakan tambahan di belakang hari. Ayatayat ini tidak terdapat pada teks-teks aslinya.

Codex Sinaiticus, berasal dari abad ke-4 dan merupakan teks Perjanjian Lama serta Perjanjian Baru yang paling tua dan mendekati sempurna.4 Kitab ini memberikan kesaksian mengenai fakta bahwa ayat-ayat tersebut tidak termaktub di kedua Injil, Markus dan Lukas dalam versi asli, melainkan pasti telah ditambahkan belakangan oleh beberapa penulis atas inisiatif sendiri. Dalam Codex Sinaiticus, Injil Markus berakhir hingga bab 16 ayat 8. Fakta ini sekarang diakui oleh beberapa Bibel edisi modern.5 Demikian pula, Injil Lukas (24:15) dalam Codex Sinaiticus tidak memuat kata-kata ‘terangkat ke sorga.’

Menurut kritikus Bible, C.S.C.Williams, jika tidak dicantumkannya hal-hal tersebut pada Codex Sinaiticus itu merupakan sesuatu yang benar, rnaka tidak ada rujukan sama sekali bagi Kenaikan [Almasih] pada teks asli Injil-injil.6

Bahkan Saksi Yehova, yang paling bersemangat dalam mendukung masalah Yesus sebagai Anak Tuhan dan kenaikannya ke Tuhan Bapak, pada akhimya telah mengakui bahwa ayat-ayat Markus dan Lukas tersebut merupakan tambahan-tambalhan tanpa suatu dasar pada teks-teks asli.7

Apa yang Terjadi Pada Tubuh Yesus?

Pengamatan yang cermat dari sudut pandang akal sehat data logika, menguakkan kemustahilan-kemustahilan lebih lanjut yang melekat pada episode-episode Penyaliban serta Kenaikan [Almasih], seperti yang dikernukakan oleh orang-orang Kristen zaman sekarang.Sejauh yang berkaitan dengan kembalinya Yesus ke New World Translation.dalam tubuh manusianya, cukup banyak yang sudah dipaparkan. Kami hanya ingin menambahkan tentang apa yang dapat terjadi pada tubuh Yesus apabila akhirnya naik [ke langit], jika memang beliau pernah.

Bila dihadang oleh pertanyaan apa yang terjadi pada tubuh Yesus Kristus, maka dikemukakan oleh beberapa orang Kristen bahwa beliau telah naik kepada Bapak-nya di sorga dan tubuh jasmani beliau terurai dan menghilang dalam cahaya. Hal ini menimbulkan pertanyaan fundamental. Jika kepergian Yesus dari tubuh manusianya memang harus terjadi dalam suatu peristiwa ledakan, mengapa hal itu tidak terjadi langsung pada saat kematian pertama beliau? Rujukan satu-satunya yang kita peroleh dalam Bibel mengenai kematian Yesus adalah ketika beliau masih tergantung di tiang salib dan dalam kata-kata Matius, ‘dia telah menyerahkan nyawanya’ (Matius 27:50). Rupanya, tidak ada yang terjadi kecuali keberangkatan ruh secara lembut meninggalkan tubuh. Apakah kita akan menganggap bahwa beliau tidak mati di tiang salib sama sekali, sebab bila beliau telah meninggalkan tubuh tersebut, harus terjadi ledakan dalam bentuk yang sama? Mengapa hal itu terjadi hanya pada kali kedua Yesus meninggalkan tubuhnya? Dalam kondisi demikian hanya ada dua kemungkinan yang terbuka lebih lanjut:

Yesus tidak secara kekal tertahan dalam tubuh manusia setelah ruhnya kembali ke dalam tubuh tersebut, dan selama kenaikannya dia membuang tubuh manusianya dan naik secara murni sebagai suatu ruh Tuhan.

Hal ini tidak didukung oleh fakta-fakta dan tidak pula mungkin, sebab hal itu akan mengarah pada jalan buntu, yakni mempercayai bahwa Yesus telah mati dua kali. Pertama di tiang salib dan kedua pada waktu Kenaikan.

Beliau tetap tertahan dalam raga manusia seutuhnya.

Hal ini tidak dapat diterima, sebab benar-benar menjijikkan dan bertentangan dengan kemuliaan serta keagungan sosok Tuhan.

Di sisi lain, kita memiliki sebuah sudut pandang akal sehat; Akan merupakan suatu kekeliruan apabila memahami kenaikan Yesus itu sebagai semacam perjalanan luar angkasa di masa lampau, dan surga merupakan sebuah tempat jauh di balik matahari, bulan dan galaksi-galaksi.’ Kebenaran tidak ada pada pilihan pertama maupun kedua.8 Oleh karenanya, penyisipan kisah aneh semacam itu hanya dapat terdorong oleh dilema tak terpecahkan yang dihadapi orang-orang Kristen pada masa kelahiran agama Kristen. Ketika Yesus hilang dari pandangan, secara alami pertanyaan yang timbul adalah, apa yang telah. terjadi pada beliau. Orang-orang Kristen masa awal tidak dapat memecahkan kebingungan itu dengan cara menyatakan secara terbuka bahwa disebabkan Yesus belum pernah mati [sebelumnya] maka tidak ada permasalahan mengenai tubuh yang ditinggalkan dan tentang tubuhnya yang secara fakta telah pergi bersama beliau dalam perpindahan tersebut. Dengan cara ini masalah lenyapnya tubuh Yesus, dapat dipecahkan secara mudah. Namun, pengakuan seperti tersebut tidak mungkin dilakukan saat itu. Mereka yang berani mengaku bahwa Yesus terlihat [masih] hidup dan bergerak secara bertahap menjauh dari Judea akan menghadapi risiko disalahkan oleh Hukum Romawi sebagai kaki tangan kejahatan melarikan diri dari keadilan.

Berlindung di balik cerita sisipan seperti kenaikan Yesus ke sorga telah memberikan sebuah pilihan yang lebih aman, walau betapa pun anehnya pemikiran tersebut. Namun jelas hal itu pun akan merupakan suatu keterlibatan dalam kedustaan. Kita harus memberikan kehormatan pada kejujuran para murid awal [Yesus] yang dalam kondisi berbahaya demikian pun mereka tidak mencari perlindungan di balik pernyataan dusta. Segenap penulis Injil memilih tidak bersuara dalam masalah ini, daripada berlindung di balik tabir pernyataan-pernyataan keliru. Tidak diragukan lagi, mereka telah mengalami derita cemoohan dari para musuh mereka, tetapi mereka memilih menderita dalam bungkam.

Kebungkaman misterius pada pihak mereka yang mengetahui kisah nyata, tentu lebih bertanggung-jawab dalam menumbuhkan lebih besar bibit-bibit keraguan pada pikiran-pikiran warga Kristen dari generasi-generasi belakangan. Mereka tentu heran: mengapa, setelah ruh Yesus Kristus pergi, tidak ada disebutkan tentang tubuhnya yang tertinggal? Kemana perginya tubuh itu, dan apa yang telah terjadi pada tubuh tersebut? Mengapa ruh Kristus kembali kepada tubuh yang sama jika memang pemah dia tinggalkan? Pertanyaan vital akan tetap tidak terjawabkan ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain. Jika revival (hidup kembali) itu berarti kembali ke tubuh semula, apa yang telah terjadi pada Yesus Kristus setelah masa pemenjaraannya yang kedua dalam kerangkeng tubuh manusia tersebut? Apakah beliau tetap terikat dalam tubuh itu, tidak pernah dilepaskan lagi?

Di sisi lain, jika ruh Yesus sekali lagi keluar dari tubuh yang sama, maka apakah revival (hidup kembali) tersebut bersifat sementara ataukah permanen? Jika beliau tidak tetap terikat dalam tubuh itu, maka apa yang terjadi pada tubuh beliau sesudah kematian yang kedua? Di mana tubuh tersebut dikuburkan, dan apakah ada pernyataan tentang hal itu dalam arsip atau catatan manapun?

Tampaknya pertanyaan-pertanyaan ini, kalau pun tidak timbul pada masa awal, pasti telah timbul pada abad-abad belakangan ketika upaya-upaya filosofis yang sungguhsungguh mengenai misteri Kristus dan segenap yang berkaitan dengan beliau disaksikan secara luas di kalangan para theolog Kristen. Tampak bahwa beberapa penulis tak bermoral mencoba keluar dari [benang kusut] itu dengan cara melakukan penyisipan pada 12 ayat terakhir dalam Injil Markus, dan secara dusta menisbahkan pada Markus pemyataan bahwa Yesus terakhir kali terlihat naik ke sorga dengan tubuh yang sama.

Penyisipan juga tidak mengecualikan Injil Lukas, di mana sisipan pintar kalimat "dan [dia] terangkat ke sorga" pada bab 24 ayat 51 memenuhi maksud para penyisip. Dengan cara demikian penyisipan itu telah menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan itu seluruhnya. Paling tidak sebuah misteri dogma Kristen telah terpecahkan. Namun, dengan imbalan apa? Dengan imbalan [rusaknya] fakta-fakta mulia mengenai sosok suci sejati Yesus Kristus. Fakta tentang Kristus telah dikorbankan di atas altar cerita khayal. Sejak saat itu, ajaran Kristen berlanjut semakin menjadi-jadi dan tidak terkendali dalam perjalanan perubahannya dari kenyataan-kenyataan menuju cerita khayal.

Kita mengetahui dengan pasti bahwa orang-orang Yahudi saat itu kesal dan geram tidak menemukan tubuh Yesus Kristus.9 Mereka ingin memastikan kematian Yesus dan untuk itu mereka membutuhkan bukti kematian yang dapat diterima secara universal, yakni, keberadaan tubuh mayat. Pengaduan mereka, yang ditujukan pada Pilatus, jelas memperlihatkan kegelisahan mereka tentang potensi lenyapnya tubuh tersebut.10

Akan tetapi jawaban yang sebenarnya dan sederhana adalah, terletak pada fakta bahwa disebabkan Kristus saat itu tidak mati sebagaimana yang dipercayai, maka pertanyaan tentang tubuh yang hilang sama sekali tidak relevan, dan dalam menepati janjinya beliau harus pergi meninggalkan Judea untuk mencari domba-domba Bani Israil yang telah hilang. Jelas, beliau tidak dapat dilihat lagi.


Pandangan Muslim Ahmadi

Pandangan Muslim Ahmadi tentang keberadaan tubuh Yesus sangat jelas, logis dan berdasarkan kenyataan. Pandangan ini menampilkan Yesus dan apa yang telah terjadi pada diri beliau dalam siraman cahaya kebenaran, dimahkotai oleh keagungannya. Kenyataan hakiki Yesus Kristus begitu indah sehingga tidak perlu membubuhkan hiasan misteri di sekeliling beliau. Kenyataan [hidup] beliau meliputi penderitaan beliau demi manusia berdosa sepanjang hidup beliau yang berpuncak pada penderitaan Penyaliban, pembebasan beliau dari tiang salib sebagaimana dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah, serta hijrah beliau dalam mencari sepuluh suku Israil yang hilang.

Dengan demikian beliau telah menyampaikan amanat Tuhan tidak hanya kepada dua suku yang telah beliau hubungi sebelum Penyaliban, tetapi beliau juga telah menemukan seluruh suku Israel lainnya dan memenuhi tujuan tugas beliau. Belakangan barulah beliau memenuhi seluruh tujuan kerasulan beliau. Inilah kenyataan-kenyataan mulia dan penuh ilustrasi pada kehidupan Yesus.

Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, menyatakan sekitar seratus tahun lalu bahwa Yesus, seorang nabi Allah yang benar, telah diselamatkan dari tiang salib sebagaimana telah dinyatakan secara tidak langsung dalam ucapan-ucapan beliau sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, berdasarkan bimbingan Samawi, telah menguakkan tabir misteri dari kenyataankenyataan brilian kehidupan Yesus. Beliaulah yang telah menda'wakan di hadapan kemarahan mayoritas umat Islam ortodoks bahwa Yesus tidak mati di tiang salib, tidak pula telah naik dengan tubuh kasar ke sorga, melainkan secara mukjizat telah dilepaskan hidup-hidup dari tiang salib sesuai janji Allah. Setelah itu Yesus hijrah mencari domba-domba hilang Bani Israil sebagaimana beliau sendiri telah berjanji.

Dengan menelusuri rute yang diperkirakan jalur hijrah suku-suku Israel, orang dapat memperkirakan secara mudah bahwa beliau pasti telah melewati Afghanistan dalam perjalanan beliau ke Kashmir dan tempat-tempat lain di India, lokasi dilaporkannya keberadaan suku-suku Israel.

Terdapat bukti sejarah yang kuat bahwa orang-orang Afghanistan dan Kashmir keduanya berasal dari suku-suku imigran Yahudi. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa Yesus akhirnya wafat dan dikebumikan di Srinagar, Kashmir.

Ketika orang-orang Ahmadi memaparkan uraian ini sebagai pemecahan yang masuk akal dan realistik terhadap lenyapnya tubuh Yesus dari negeri kelahiran beliau, sering mereka dihadapkan pada bantahan, bahwa walaupun telah dibuktikan bahwa beliau diturunkan dalam keadaan hidup dari tiang salib, lebih tidak mungkin beliau melakukan perjalanan penuh bahaya dari Judea ke Kashmir. Mendengar bantahan ini orang-orang Ahmadi heran, mana jarak yang lebih jauh, dari Palestina ke Kashmir ataukah dari bumi ke batas terjauh langit.

Sekali lagi, orang-orang Ahmadi heran, apa yang telah terjadi dengan janji Yesus Kristus bahwa beliau akan pergi mencari domba-domba hilang Bani Israel? Jika beliau telah pergi langsung dari Palestina untuk duduk di sebelah kanan Bapak beliau, apakah beliau lupa terhadap tanggung-jawab beliau ataukah janji beliau itu tidak mungkin beliau laksanakan? Apakah memang demikian, atau seperti yang telah kami paparkan sebelumnya, apakah harus diyakini bahwa domba-domba hilang Bani Israil telah terlebih dahulu naik ke langit sehingga Yesus pergi ke sana untuk mencari mereka?

Kasus-kasus Selamatnya [Orang dari Kematian]

Bagi mereka yang masih sulit percaya bahwa skenario Yesus telah diturunkan dalam keadaan masih hidup dari tiang salib itu jauh lebih tidak mungkin dan tidak dapat diterima, kami menarik perhatian mereka pada fakta yang didukung oleh pengetahuan dan sejarah yang tercatat tentang selamatnya manusia dari kondisi-kondisi sangat berbahaya, [sehingga] kasus Yesus, seperti yang telah kami paparkan, bukanlah suatu hal yang aneh dan tidak mungkin untuk diterima. Banyak kasus ‘mendekati kematian' yang dilaporkan secara medis dan diakui, mengetengahkan sejumlah bukti yang mendukung selamatnya orang-orang dari kondisi-kondisi yang sangat tidak mungkin.

Kasus yang terekam secara baik tentang seorang maharaja di sebuah negeri kecil sebelum perpecahan India, tepat untuk dipaparkan. Dia ditempatkan pada kondisi serupa yang tidak mungkin, di mana dia hanya memiliki peluang kecil untuk selamat. Sang maharaja ini diracuni oleh istrinya dan ketika tubuhnya sedang dikremasi dengan api yang menyala-nyala, sebuah badai dahsyat tiba-tiba saja muncul. Akhirnya dia tidak hanya selamat dari kematian tetapi setelah melalui upaya hukum yang cukup panjang dia dikukuhkan kembali di singgasananya. Kisahnya adalah sebagai berikut:

Ramendra Narayan Roy, Kumar (Maharaja) Bhowal Estate dengan pusat Mahkamah Agungnya di Joydevpur, diperkirakan telah diracun dan langsung dinyatakan mati serta disemayamkan untuk kremasi di tempat pembakaran pada bulan Mei 1909. Kondisi-kondisi menunjukkan bahwa istrinya sebagai pemeran utama dalam upaya pembunuhan tersebut. Sebuah badai besar, sebelum selesai kremasi, mengakibatkan petugas yang bertanggung-jawab untuk membakar mayat terburu-buru pergi meninggalkan jasad tersebut. Hujan mengakibatkan api padam. Segerombolan sadhu (orang-orang fakir Hindu) yang kebetulan lewat, melihat bahwa orang itu masih hidup. Akhirnya dia ditolong. Hari berikutnya diketahui oleh orang-orang yang bersekongkol bahwa tubuh itu telah lenyap, mereka mengkremasi mayat lain untuk membuat kematian sang Kumar tampak seperti nyata.

Para sadhu yang telah menyelamatkannya, membawanya dari satu tempat ke tempat lain. Pengalaman mendekati mati itu mengakibatkan sang Kumar kehilangan ingatannya tetapi dapat pulih kembali secara bertahap, dan dia mengunjungi Yoydevpur 12 tahun kemudian. Suasana-suasana yang tidak asing di kota kediamannya telah mengembalikan seluruh ingatannya. Ketika sang Kumar mengajukan gugatan untuk meraih kembali tanahnya di Mahkamah Agung sebagai ahli waris asli dan pemilik kawasan Bhopal, istrinya dan beberapa orang lain berjuang untuk [menguasai] itu.'

Perkara pengadilan akhirnya digelar dengan pahit antara kedua belah pihak. Lebih dari seribu orang memberikan kesaksian yang mendukung sang Kumar dan empat ratus orang mendukung istrinya. Permasalahan nyata yang diperkarakan adalah mengenai identitas sang Kumar, sebab menurut pengetahuan umum dia sudah mati 12 tahun silam.

Perkara itu dimenangkan oleh sang Kumar setelah dia mengungkapkan beberapa tanda di tubuh istrinya yang hanya diketahui oleh seorang suami. Tanahnya akhirnya dikembalikan kepadanya.11

Ratusan kasus serupa mungkin telah terjadi tanpa terdata secara sempurna. Syukur dengan adanya fasilitas kesehatan modern dan peliputan media, ratusan kasus serupa telah dilaporkan dan direkam. Jika semua ini masuk akal dalam kasus-kasus orang biasa dari seluruh lapisan masyarakat dan dari segenap latar belakang moral agama, mengapa hal itu jadi tidak mungkin dalam kasus Yesus?

Jika siapa saja memiliki peluang untuk selamat hidup dalam menghadapi kondisi yang paling tidak mungkin sekali pun, Yesus memang memiliki sebuah peluang yang lebih besar berdasarkan kondisi-kondisi khusus yang mengitari beliau. Akan tetapi cukup aneh, orang-orang yang ragu [tetap saja] menolak pernyataan bahwa Yesus memang telah selamat dari upaya pembunuhan melalui penyaliban. Namun, mereka lebih percaya terhadap kisah yang lebih tidak realistis, aneh dan tidak alami mengenai selamatnya beliau dari kematian telak – yaitu kematian yang telah berlangsung selama tiga hari tiga malam penuh menurut mereka.

Bidang riset medis juga tertarik meneliti fenomena kasus mendekati kematian (near death phenomenon). Sebuah studi telah dilakukan yang dalamnya telah diteliti laporan 78 kasus pengalaman mendekati kematian. Delapan puluh persen dari kasus-kasus itu petugas medis hadir selama atau langsung sesudah pengalaman-pengalaman tersebut terjadi. Yang menarik adalah, empat puluh persen orang-orang yang diteliti itu dilaporkan telah dinyatakan mati selama mereka mengalami kondisi mendekati kematian.12

Dengan segala macam peralatan yang tersedia, jika para ahli medis saja dapat menyatakan seseorang yang hidup itu mati, bagaimana dapat dipercayai kesaksian seorang pengamat cemas yang menyaksikan Yesus kehilangan kesadarannya dan dari itu dia menarik kesimpulan bahwa beliau telah mati? Lebih lanjut, setelah melihat beliau lagi, [pengamat] itu membuat kesimpulan bahwa beliau telah hidup kembali dari kematian? Sungguh tidak dapat diterima.

2. Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. (Markus 16 : 19).
3. Dan ketika ia sedang memberkati mereka, ia berpisah dari mereka dn terangkat ke sorga. (Lukas 24 : 51).
4. Jesus the Evidence, oleh Ian Wison, 1984, p.18
5. The Holy Bible, New Internatiional Version, 1984, International Bible Society, p. 1024
6. The Secret of Mount Sinai, the story of finding the world’s oldest Bible Codex Sinaiticus, oleh James Bently, p. 131.
7. New World Translation
8. The Lion Handbook of Christian Belief, London, 1982, p. 120. 108
9. Matius 28 : 11-15
10. Matius 27 : 62-64
11. The Bhowal Case, disusun oleh J.M Mitra dan R.C. Chakravarty, diterbitkan oleh Peer & Son, Calcutta.
12. The Phenomenology of Near-Death Experience, oleh Bruce Greyson M.D dan Jan Stevenson. M.D., A.M. Psychiatry 137 : 10. Oktober 1980


Selengkapnya =>>

Senin, 04 Agustus 2008

Hidup Kembali ataukah Kebangkitan Kembali? (2)

Bahasa Keji Terhadap Orang Suci
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Bibel telah memperkirakan bahwa penda'wa palsu, yang menyebutkan sesuatu berasal dari Tuhan padahal Dia tidak mengatakannya, akan digantung di pohon kayu. Oleh karena itu, kematian Yesus di tiang salib akan berarti kematian bagi Kristen. Itulah sebabnya literatur agama Yahudi yang, autentik dipenuhi oleh kesenangan terhadap kematian Yesus di tiang salib. Beliau dianggap telah terbukti palsu/dusta, tanpa ragu sedikit pun, oleh Yahudi musuh beliau saat ini, berdasarkan ayat Bibel tersebut.

Mereka bahkan kehilangan rasa hormat terhadap beliau dan telah menggunakan kata-kata kotor serta caci-maki terhadap beliau, yang tidak sanggup dibaca oleh siapa pun yang mencintai Yesus, seperti kami, sebagai seorang utusan Allah yang benar, tercinta, dan suci. Orang dapat membayangkan keperihan mendalam serta penderitaan hebat para warga Kristen awal yang telah mengenal Yesus sebagai seorang suci dan rasul sejati dari Tuhan, yang ditunjuk secara khusus sebagai Almasih. Bagaimana mereka akan membela diri mereka terhadap serangan gencar kata-kata kotor tersebut, tatkala membaca saat ini dalam konteks masa sekarang, membayangkan buku bejad Salman Rushdie, The Satanic Verses?

Tidak adanya sama sekali rasa hormat sedemikian rupa terhadap sopan-santun yang dilakukan oleh keduanya tampak muncul dari kedalaman degradasi (kemunduran akhlak) manusia. Kutipan berikut ini akan memberikan beberapa gambaran bagi para pembaca, yakni apa yang terjadi pada segenap nilai kesopanan manusia apabila para penentang fanatik orang-orang suci memilih untuk menjadikan orang-orang itu sebagai sasaran kekurangajaran mereka, cercaan-cercaan mereka yang jahat serta menyimpang.

Talmud, kitab doktrin yang merinci segenap ilmu dan keimanan orang-orang Yahudi, telah mengajarkan bahwa Yesus tidak hanya dilahirkan secara tidak sah, tetapi lebih kurang ajar lagi dengan menganggap beliau dilahirkan dari perkawinan Maryam dengan setan ketika mengalami menstruasi. Lebih lanjut kitab itu menjelaskan bahwa beliau memiliki ruh Esau; yakni beliau itu seorang tolol, tukang sihir, penggoda; dan bahwa beliau telah disalibkan, dikubur di neraka dan telah dijadikan sebagai berhala oleh para pengikutnya. Kutipan berikut diambil dari buku The Talmud Unmasked, oleh Pendeta I.B. Pranaitis.

Berikut ini diceritakan dalam Risalah Kallah, lb (18b): "Suatu kali, ketika para Tetua duduk di Gerbang, dua anak muda lewat, seorang di antaranya mengenakan tutup kepala. Yang satu lagi kepalanya tidak tertutup. Rabbi Eliezer menyatakan bahwa yang tidak bertutup kepala adalah tidak sah (anak haram), seorang mamzer. Rabbi Jehoschua mengatakan bahwa dia dikandung pada masa menstruasi, ben niddah. Akan tetapi Rabbi Akibah mengatakan, dia kedua-duanya. Atas hal itu, yang lain bertanya pada Rabbi Akibah, mengapa dia berani bertentangan dengan rekan-rekannya? Dia menjawab, dia dapat membuktikan apa yang telah dia ucapkan.

Dia pergi kepada ibu anak itu yang dia lihat duduk di pasar menjual sayuran, dan mengatakan kepadanya: ‘Putriku, jika engkau akan menjawab sejujurnya apa yang akan saya tanyakan ini kepadamu, saya berjanji bahwa engkau akan selamat di akhirat.' Perempuan itu memohon agar dia (Rabbi) bersumpah untuk memegang janjinya, dan Rabbi Akibah melakukan hal itu — tetapi hanya dengan bibirnya, sebab dalam hatinya dia tidak memberlakukan sumpahnya itu. Kemudian dia berkata: ‘Katakan, anakmu ini anak yang bagaimana?' Perempuan itu menjawab: ‘Hari ketika saya kawin saya mengalami menstruasi, dan karena itu suami saya meninggalkan saya. Namun ruh setan datang dan tidur bersama saya dan dari persetubuhan itu putraku ini lahir.’ Dengan itu telah terbukti bahwa anak muda ini tidak saja tidak sah (anak haram), tetapi juga dikandung dalam masa menstruasi oleh ibunya. Dan ketika para penanyanya itu mendengar hal ini, mereka menyatakan: ‘Hebat Rabbi Akibah, sebab dia meralat para Tetuanya!' Dan mereka menyatakan, ‘Beberkatlah Tuhan Israel, yang telah membukakan rahasia-Nya kepada Rabbi Akibah, putra Yusuf!" Orang-orang Yahudi memahami cerita ini ditujukan kepada Yesus dan ibunya, Maryam, secara jelas dipaparkan dalam buku mereka Toldath Jeschu - Generasi Yesus — di mana kelahiran Juru Selamat kita diceritakan dalam kata-kata yang hampir sama.1

Seluruh rasa sopan-santun yang ada dalam diri manusia bergejolak menentang kotoran berbau busuk menyengat ini, yang telah ditumpukkan di atas nama dan gambaran/sosok suci Yesus pada literatur para penentangnya yang sangat memusuhi. Jelas, Yesus dikandung oleh seorang wanita perawan suci yang bemama Maryam, dan tidak ada pihak lain yang memainkan peranan dalam pembuahan [si anak] kecuali kudrat penciptaan tak terbatas dari Tuhan kita. Pemikiran tentang terjadinya pembuahan melalui persetubuhan dengan setan sewaktu menjalani masa haid, jauh lebih tepat ditujukan pada pikiran yang mengandung kebejadan tersebut. Tidak ada istri orang-orang suci dan tidak pula ibu-ibu mereka yang terhindar dari lidah-lidah dan pena-pena orang bejad yang meludahkan bisa racun serta kekurangajaran. Tidak ada bedanya, apakah orang gila seperti itu hidup 2000 tahun lalu atau dilahirkan pada zaman sekarang. Sungguh mengherankan, bahkan masyarakat yang paling beradab sekali pun pada zaman sekarang ini dapat menutup mata mereka terhadap kebiadaban tersebut dan agak mengizinkan serangan-serangan menyolok itu atas nama kebebasan menggunakan lidah dan pena.

Bahasa yang digunakan Salman Rushdie, umpamanya, terhadap istri-istri suci Rasul Suci Islam, bukannya tidak persis dengan bahasa yang telah digunakan terhadap bunda suci Kristus:

Juga diriwayatkan dalam Sanhedrin, 67a:
‘Inilah yang telah mereka lakukan pada putra Stada di
Lud, dan mereka menggantungnya pada perayaan
Paskah. Sebab putra Stada merupakan putra Pandira.
Sebab Rabbi Chasda mengatakan kepada kami bahwa
Pandira adalah suami Stada, ibunya, dan dia hidup pada
masa Paphus putra Jehuda.

Penulis buku The Talmud Unmasked, Pendeta I.B.Pranaitis memberikan ulasan berikut ini terhadap ayat-ayat yang dikutip di atas:

‘Artinya adalah, Maryam ini disebut Stada, yakni
seorang pelacur, sebab, berdasarkan apa yang telah
diajarkan di Pumbadita dia meninggalkan suaminya dan
melakukan perzinahan. Hal ini juga tertera pada Talmud
Jerusalem dan Maimon.’
‘Apakah mereka yang mempercayai kedustaan
kedustaan setaniah seperti itu pantas memperoleh
kebencian yang lebih besar atau kasih-sayang yang lebih
besar, saya tidak dapat mengatakannya.'

Ini jelas merupakan jeritan penderitaan dari hati seorang korban tak berdaya yang merasa perih atas penghinaan fanatik terhadap junjungannya yang tercinta. Para warga Kristen masa awal tentu telah mengalami penderitaan yang lebih besar dan menjalani masa perih atas penghinaan orang-orang Yahudi zaman itu. Mereka mengalami cercaan, yang ditujukan bukan kepada seseorang yang kenangan tentangnya telah terkubur di masa lalu, tetapi kepada seseorang yang kenangan penuh cinta tentangnya masih segar dan hidup, dan yang sangat dicintai oleh mereka yang telah melihatnya dan telah mengalami saat-saat yang indah dalam hidup mereka bersamanya. Mereka tersiksa dua kali lipat, sebab tidak hanya penghinaan keji yang melukai mereka, tetapi penghinaan lebih lanjut ditambahkan pada luka tersebut melalui penderitaan Yesus Kristus selama penangkapan dan upaya penyaliban beliau.

Saya hanya menghendaki agar hati nurani orang-orang Kristen dari Barat yang bebas, setidaknya melakukan sesuatu untuk memahami penderitaan dan kesedihan mendalam yang dialami oleh milyaran umat Islam yang sudah pasti tersiksa tidak kurang dari itu ketika bahasa tidak manusiawi telah digunakan terhadap Junjungan Mulia mereka dan para sahabat beliau.

Orang-orang Kristen masa awal mengalami semua itu sedangkan mereka secara pribadi mengetahui dan memiliki bukti tak terbantahkan bahwa Yesus masih hidup [saat itu] dan tidak mati di tiang salib seperti yang digembargemborkan oleh orang-orang Yahudi. Mereka sendiri yang telah merawat luka-luka beliau. Mereka menyaksikan beliau pulih secara mukjizat dari kondisi koma ketika tubuh beliau diserahkan kepada mereka, dan telah melihat beliau dengan mata mereka sendiri, bukan dalam bentuk bayangan atau hantu, tetapi dalam tubuh lemah manusia sama yang telah mengalami penderitaan begitu besar demi kebenaran dan yang telah selamat dari kematian secara mukjizat. Mereka berbicara dengan beliau, makan bersama beliau dan menyaksikan beliau bergerak selangkah demi selangkah, malam demi malam, dengan penuh rahasia, menjauhi kawasan Penyaliban.

1. The Talmud Unmasked, oleh Pendeta I.B. Pranairis, bab I, p.30 103
Selengkapnya =>>

Minggu, 03 Agustus 2008

Hidup Kembali ataukah Kebangkitan Kembali?

Skenario tentang kembali hidupnya Yesus dari kematian menampilkan banyak permasalahan. Beberapa di antaranya telah diperbincangkan pada bab terdahulu. Kini kita beralih pada unsur dan permasalahan lain.

Yang menjadi perhatian kami adalah kondisi "otak" Yesus, sebelum Penyaliban dan setelah beliau siuman kembali. Otaknya telah difungsikan kembali, setelah tidak berfungsi selama tiga hari tiga malam. Pertanyaannya adalah, apa yang sungguh-sungguh telah terjadi pada otak saat kematian? Pada satu poin, paling tidak, terdapat kesepakatan di antara para ahli medis Kristen dan non-Kristen: jika otak mati lebih dari beberapa menit, itu berarti mati dan hilang selamanya. Segera setelah suplai darah terhenti, otak mulai mengalami kerusakan.

Jika Yesus telah mati pada waktu Penyaliban, hal itu hanya dapat berarti bahwa jantung beliau berhenti berfungsi dan berhenti menyuplai darah ke otak beliau, dan otak beliau segera mati sesudah itu. Jadi, seluruh sistim penyanggah hidup beliau telah berhenti beroperasi, atau beliau tidak dapat dinyatakan mati pada waktu itu. Dengan demikian, kita dihadapkan pada permasalahan yang sangat membangkitkan minat, dalam kaitan memahami tentang hidup dan matinya Yesus Kristus.

Kematian Yesus Kristus, seperti yang telah dikemukakan, berarti kepergian terakhir tubuh ruhani beliau, atau apa yang kita sebut ruh, dari jaringan fisik tubuh manusia beliau. Jika demikian, hidupnya beliau kembali berarti kembalinya tubuh ruhani itu ke dalam tubuh fisik yang sama yang telah ia tinggalkan tiga hari sebelumnya.

Kembalinya ruh seperti itu akan menghidupkan kembali jam kehidupan fisik dan membuatnya mulai berdetak kembali. Untuk hal yang terjadi seperti itu, sel-sel otak yang telah mengalami kerusakan dan mati, tiba-tiba akan kembali hidup, dan proses kimiawi pembusukan yang cepat, akan berbalik seluruhnya. Hal ini mencakup sebuah persoalan besar dan akan tetap menjadi suatu tantangan bagi para ahli biokimia Kristen untuk memecahkannya.

Uraian berbaliknya seluruh proses kimiawi pembusukan/kematian dalam sistim saraf pusat, adalah di luar jangkauan yang paling jauh dari imajinasi ilmuwan. Jika hal ini benar-benar telah terjadi, tentu saja ini merupakan sebuah mukjizat, yang bertentangan dengan sains dan memperolok hukum-hukum yang telah dibuat oleh Tuhan sendiri, tetapi hal itu akan menjadi suatu mukjizat yang masih belum dapat memecahkan permasalahan.

Kehidupan kembali seperti itu tidak hanya berarti hidupnya kembali sel-sel pada sistim saraf pusat, tetapi benar-benar perpaduan mereka. Bahkan jika sel-sel yang sama direkonstruksi dan dihidupkan kembali persis seperti sebelumnya, mereka pada kenyataannya akan menjadi suatu set baru sel-sel yang tidak memiliki memori sebelumnya. Selsel itu harus dirancang kembali lengkap dengan seluruh data yang terkait dengan kehidupan Yesus, yang telah terhapus dari otak beliau setelah kematian otak tersebut.

Hidup, seperti yang kita ketahui, tediri dari sebuah kesadaran yang diisi dengan informasi yang disimpan oleh milyaran neuron dalam otak. Informasi tersebut kemudian terbagi dalam data informasi terkomputerisasi yang lebih rumit dan saling terkait, yang diterima melalui panca indera. Jika data itu terhapus, kehidupan juga akan terhapus. Oleh karena itu, hidupnya kembali otak Yesus berarti pembangunan dan perakitan sebuah komputer otak baru dengan software/perangkat-lunak yang sama sekali baru. Hal yang kompleks/rumit ini juga berkait dengan [aspek] kimia seluruh bagian tubuh lainnya pada Yesus Kristus. Untuk menghidupkan kembali tubuh itu, proses rekonstruksi kimiawi yang maha besar harus dijalankan, setelah menyelamatkan kembali segenap materi yang telah hilang dalam proses pembusukan/kematian. Dengan terjadinya mukjizat yang begitu besar, pertanyaan akan timbul: siapa yang telah dihidupkan kembali, dan dengan dampak apa? Apakah manusia dalam diri Yesus, ataukah tuhan dalam beliau? Itulah sebabnya kami menegaskan tentang pentingnya memahami wujud diri Yesus.

Ketika Yesus diketahui telah bimbang dan gagal menunjukkan kedigdayaan beliau sebagai Anak Tuhan, orang-orang Kristen berlindung pada penda'waan bahwa beliau itu bimbang sebagai seorang manusia bukan sebagai tuhan. Jadi, kita memiliki hak penuh untuk mempertanyakan dan secara jelas merinci bagian mana yang merupakan manusia dalam diri beliau dan bagian mana yang merupakan tuhan. Kebimbangan wujud manusia dalam diri Yesus menuntut suatu otak/pemikiran manusia yang merupakan suatu jati diri terpisah dari tuhan dalam diri beliau. Ketika otak itu dihidupkan kembali, adalah unsur manusia dalam diri Yesus yang telah dihidupkan kembali, sebab zat "tuhan" dalam diri Yesus tidak membutuhkan sebuah otak lahiriah untuk menopangnya. Bagi zat "tuhan" itu, ia hanya berfungsi sebagai suatu wadah selama persinggahannya terdahulu di bumi, seperti suatu sarana ruhani. Oleh karena itu, hidupnya kembali Yesus hanya melibatkan hidupnya kembali wujud manusia dalam diri beliau, yang tanpa itu kembalinya ruh beliau kepada tubuh yang sama menjadi tidak mungkin.

Jika skenario ini tidak dapat diterima, maka kita akan menghadapi permasalahan berat lain, yaitu menisbahkan pada Yesus dua otak/pemikiran yang independen selama kehidupan beliau di bumi. Satu otak manusia, dan satu lagi otak tuhan. Kedua otak/pikiran ini bersama-sama mengisi satu tempat yang sama, tetapi saling tidak berhubungan dan berdiri sendiri. Jika demikian, masalah hidup kembali itu terpaksa harus dikaji ulang sampai fakta yang sebenarnya dipahami secara jelas. Dalam skenario ini, orang tidak harus dapat memahami intisari pembangunan kembali otak manusia sebagai wadah bagi pikiran manusia. Kita hanya perlu membayangkan bagaimana Yesus masuk kembali ke dalam batok kepala yang berisikan bangkai otak yang membusuk/mati milik tubuhnya terdahulu.

Semakin dalam kita menelaah permasalahan ini semakin banyak permasalahan yang muncul dalam kepala mereka pada setiap tahap pemeriksaan. Pikiran manusia membutuhkan sebuah otak sebagai sarana bagi proses pemikirannya. Sejauh yang berkaitan dengan fungsi-fungsi tubuh lahiriah, jika kita percaya otak/pikiran itu sebagai suatu sosok terpisah yang hidup sendiri maka ini secara tidak langsung menyatakan bahwa otak/pikiran dan ruh adalah satu hal yang sama. Dengan memberikan nama apa pun padanya, tidak peduli apakah kita menamakannya pikiran atau ruh, ia dapat dianggap mampu hidup secara terpisah walau hubungannya dengan otak manusia telah terputus. Namun, jika pikiran atau ruh itu diminta mengendalikan tubuh manusia atau menyerap pengaruh dari apa yang terjadi pada kenyataan-kenyataan fisik, maka tampaknya harus ada ikatan yang bagus antara pikiran dan otak, atau antara ruh dan otak. Jika tidak, mereka tidak dapat mempengaruhi, menggerakkan atau mengendalikan proses-proses fisik, mental dan perasaan dalam diri manusia. Mungkin hal ini tidak dapat diperdebatkan.

Dari sini, kita digiring kepada permasalahan serius lainnya: apakah oknum yang disebut Tuhan Anak itu perlu mengendalikan sebuah tubuh melalui sebuah otak? Dan apakah dia bertumpu pada sebuah otak lahiriah untuk proses-proses pikirannya? Jika dia melampaui segenap batasan manusia dan jika dia memiliki sistim yang mandiri bagi proses pikirannya, aneh baginya, tanpa sejajar dengan seluruh alam hasil ciptaannya, maka kembalinya ruh Tuhan ke dalam tubuh manusia beriringan dengan pikiran manusia, membentuk suatu gambaran aneh berupa dua kepribadian dengan proses pikiran yang bertentangan, sebab tidak mungkin bagi pikiran manusia dan ruh manusia untuk menyatu secara total dengan pikiran Tuhan dan Wujud-Nya.

Pasti ada perbedaan yang tetap antara kedua proses pemikiran, dibarengi benturan-benturan yang sangat mengganggu gelombang-gelombang otak. Kasus semacam ini tepatnya ditangani oleh seorang psikiater superhuman. Mungkin ini sebuah jenis baru schizofrenia (penyakit jiwa) ruhaniah .

Dengan mengatakan demikian, mari kita bangun kembali seluruh skenario dari sudut lain. Setelah mempelajari kekristenan pada kedalaman tertentu, saya sampai pada kesimpulan bahwa terdapat kerancuan umum dalam memahami beberapa istilah dari terapannya, tanpa memahami penuh dampak-dampaknya terhadap situasisituasi yang sebenarnya tidak tepat. Ideologi Kristen diselubungi oleh kabut tebal kerancuan dan kesalahan dalam menerapkan istilah. Revival (siuman) adalah istilah tersendiri, sedangkat resurrection (kebangkitan kembali) lain lagi, dan keduanya memiliki makna berbeda. Sejauh ini, kami sengaja menggunakan istilah revival (siuman) ketika membincangkan kemungkinan hidupnya Yesus kembali. Sebagaimana yang telah kita saksikan dari pembahasan sebelumnya, ‘hidup kembali' berarti kembalinya seluruh fungsi vital tubuh manusia sesudah ‘mati’. Namun, kebangkitan kembali' (resurrection) adalah suatu fenomena yang benar-benar berbeda.

Sayangnya, gereja Kristen, di seluruh dunia, bertanggungjawab atas penciptaan kerancuan dalam pemikiran-pemikiran Kristen melalui penggunaan yang salah terhadap istilah-istilah tersebut, dan dengan cara menukarnya satu sama lain, atau paling tidak dengan cara menisbahkan makna yang satu terhadap lainnya. Kebanyakan orang Kristen memahami kebangkitan (resurrection) Yesus Kristus sebagai hidupnya sekali lagi tubuh manusia beliau yang telah beliau tinggalkan pada saat apa yang disebut sebagai kematian beliau. Tentu kami tidak sependapat dengan itu, dan tetap menggunakan hak kami untuk menyatakannya sebagai kondisi koma total dan bukan kematian.

Jika dipahami dan diterapkan secara benar, kata ‘kebangkitan Yesus' tidak dapat berarti kembalinya ruh beliau ke dalam tubuh manusia yang sama yang telah ditinggalkannya pada saat mati. Istilah ‘kebangkitan' (resurrection) hanya berarti kelahiran/penciptaan sebuah tubuh ruhani baru. Tubuh semacam itu bersifat ruhaniah, dan berfungsi sebagai semacam wadah bagi ruh yang telah disucikan dalamnya. Ia telah diciptakan untuk kelangsungan abadi bagi kehidupan sesudah mati. Sebagian orang menyebutnya tubuh sidereal body (tubuh nyata sampingan) atau astral body (tubuh ruhani), dan sebagian menyebutnya athma. Apa pun nama yang anda berikan untuknya, makna intinya tetap sama; ‘kebangkitan' digunakan bagi kelahiran tubuh baru bagi ruh yang bersifat sangat halus, dan bukan, kami ulangi, bukan kembalinya ruh ke dalam tubuh manusia yang sama yang telah rusak dan yang telah ditinggalkan sebelumnya.

Paulus telah memberikan ulasan/komentar panjang lebar dengan menggunakan istilah ini mengenai kebangkitan Yesus Kristus. Dia percaya tidak hanya pada kebangkitan Yesus, tetapi kebangkitan secara umum semua orang yang mati dan dianggap pantas oleh Tuhan untuk diberi sebuah eksistensi baru dan sebuah bentuk kehidupan baru. Kepribadian sang ruh tetap sama, tetapi tubuh/cangkangnya berubah: Menurut Paulus, ini adalah fenomena umum yang harus diterima, jika tidak, tidak ada makna yang tersisa bagi kekristenan atau agama.

Surat-surat Paulus kepada orang-orang Korintius harus dipelajari secara mendalam, sebab merupakan titik pusat permasalahan. Surat-surat itu tidak menyisakan tempat bagi keraguan, dalam pikiran saya paling tidak, yakni bila saja dia berbicara tentang telah terlihatnya Yesus hidup-hidup setelah Penyaliban, dia berbicara secara jelas dan tanpa kerancuan mengenai kebangkitan dan kebangkitan beliau semata, serta tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa ruh Yesus telah kembali masuk ke dalam tubuh beliau yang tidak abadi itu, dan bahwa beliau telah dibangkitan kembali dari kematian dalam istilah fisik. Jika pemahaman saya tentang Paulus tidak dapat diterima oleh beberapa theolog Kristen, mereka akan terpaksa mengakui bahwa Paulus secara nyata menempatkan dirinya pada pertentangan. Sebab, paling tidak dalam beberapa penjelasannya mengenai kehidupan baru Yesus, dia tidak meninggalkan unsur keraguan sedikit pun bahwa dia memahami kehidupan baru Yesus itu sebagai kebangkitan (resurrection) dan bukan sebagai hidupnya kembali (revival) tubuh manusia, di mana dikatakan tempat ruhnya pernah terkurung.

Berikut ini beberapa kutipan terkait yang berbicara dengan sendirinya: Allah, yang membangkitkan Tuhan (Yesus), akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya. (Korintius I, 6:14).

Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh ruhaniah. (Korintius I, 15:42-44). Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka genaplah firman Tuhan yang tertulis: ‘Maut telah ditelan dalam kemenangan.' (Korintius I, 15:52-54). Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan. (Korintius II, 5:8).

Permasalahan yang masih harus dipecahkan timbul dari referensi Paulus kepada warga Kristen masa awal mengenai bagaimana Yesus telah kelihatan hidup dalam tubuh beliau segera sesudah Penyaliban. Jika Paulus memahami bahwa Yesus telah mengalami kebangkitan, dia dapat saja benar tentunya, dan mimpi/rukya pribadinya tentang Yesus atau bersama beliau dapat dijelaskan dalam makna kebangkitan seperti berkunjungnya ruh seorang yang telah mati dari dunia lain, yang menuntut sang hantu untuk tampil persis seperti bentuk dan rupa sebelum kematian. Namun, tampaknya terjadi kerancuan atas tercampurnya dua jenis bukti. Pertama-tama kita harus mempertimbangkan bukti terdahulu dari para murid Yesus dan mereka yang mencintai dan memuja beliau, walaupun mereka mungkin secara formal belum masuk Kristen saat itu. Bukti tersebut tampaknya telah salah dipahami oleh Paulus, sebab bukti itu secara jelas menyatakan Yesus dalam bentuk manusianya dengan sebuah tubuh lahiriah yang tidak dapat ditafsirkan sebagai kebangkitan.

Untuk membuktikan hal itu, orang dapat merujuk pada episode ketika Yesus mengejutkan beberapa murid beliau: Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi ia (Yesus) berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan dalam hati kamu? Lihatlah tanganku dan kakiku. Aku sendirilah ini; rabalah aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat padaku." Sambil berkata demikian, ia memperlihatkan tangan dan kakinya kepada mereka. Dan, ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?" Lalu mereka memberikan kepadanya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. (Lukas 24:37-34).

Episode ini secara jelas menyingkirkan pemikiran tentang kebangkitan, dan menyatakan bahwa Yesus ingin memperlihatkan secara jelas bahwa beliau masih merupakan orang sama dalam tubuh manusia yang sama dan bukan hantu; dan tidak pula beliau merupakan seseorang yang tidak lagi membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. Hal ini lebih lanjut menunjukkan bahwa warga Kristen masa awal menyatakan dua hal yang berbeda. Bila saja mereka berbicara tentang hidupnya kembali Yesus dari kematian dan telah dihadang oleh keraguan tentang betapa tidak masuk akalnya pemikiran seperti itu, mereka berlindung pada gagasan kebangkitan, yang secara falsafah dan logika dapat dijelaskan. Korintius I, khususnya, menampilkan peluang yang bagus untuk mempelajari dilema bagaimana menempatkan kaki seseorang pada dua buah perahu yang berbeda.

Akhimya, kembali pada bukti perjumpaan warga Kritsten masa awal dengan Yesus Kristus, kita tidak diberi pilihan kecuali mempercayai bahwa Yesus yang telah tampil di hadapan banyak murid dan sahabat beliau segera setelah Penyaliban, yang telah bercakap-cakap dengan mereka, yang telah [duduk] bersama-sama mereka, dan secara bertahap berpindah menjauhi tempat Penyaliban, kebanyakan dalam kegelapan malam, sudah pasti bukanlah orang yang telah dibangkitkan, tetapi orang yang secara fisik telah dihidupkan kembali dari kematian, atau orang yang tidak pernah mati tetapi secara mukjizat telah pulih dari kondisi yang mendekati mati. Beliau memang sudah sangat dekat dengan kematian, sehingga kondisi beliau dapat disebandingkan dengan kondisi Nabi Yunus dalam perut ikan. Kami tidak ragu dalam pemikiran kami, bahwa pilihan terakhir ini satusatunya yang dapat diakui.

Guna memudahkan kaum Kristen untuk memahami sudut pandang kami, saya akan memaparkan kasus hipotetis yang sama. Cerita yang sama diulangi kembali dalam kehidupan nyata zaman sekarang. Rencana untuk membunuh seseorang dilakukan dengan cara menyalibkannya, dan dia diperkirakan akan mati sebagai akibatnya. Setelah itu, orang yang sama tampak berkeliaran oleh beberapa rekan dekatnya. Mereka juga menyaksikan tubuh lahiriahnya yang tampak jelas mengandung bekasbekas penyaliban. Kemudian orang itu ditangkap kembali oleh petugas hukum dan diseret ke pengadilan dengan tuntutan dari pihak kejaksaan, yakni dikarenakan dia telah terhindar dari maut dalam rencana pertama maka untuk menjalani hukuman yang telah dijatuhkan kepadanya, dia harus disalib kembali. Orang itu kemudian membela diri dengan memaparkan argumentasi bahwa dia satu kali sudah pasti dapat mati, sehingga tujuan hukuman telah terpenuhi; dan sekarang dia telah dibangkitkan dari kematian oleh suatu keputusan khusus dari Tuhan, maka hukuman yang terdahulu itu tidak dapat dilaksanakan kembali, sebab dia memperoleh suatu kehidupan yang benar-benar baru, yang di dalamnya dia tidak melakukan pelanggaran hukum apa pun. Jika pengadilan menerima pembelaan ini, sudah jelas dia tidak akan dihukum lagi untuk suatu kesalahan yang telah dia tebus.

Yesus, telah tumbuh menjadi salah satu dan pilar-pilar keimanar Kristen, yang tanpanya maka seluruh bangunan theologi Kristen akan rubuh? Kami akan berusaha memproyeksikan diri kami ke dalam pemikiran-pemikiran warga Kristen awal yang menghadapi suatu dilema yang sulit sekali dipecahkan, dan mulai merekonstruksi kondisikondisi yang dalamnya kekristenan telah diberikan sebuah bentuk yang berbeda dari kenyataannya. Dengan cara ini mungkin akan lebih mudah bagi kami untuk memahami secara mendalam proses pembentukan dan perombakan Kristen. Fakta nyata yang harus menjadi pusat pemikiran adalah: jika Yesus alaihissalam benar-benar telah mati di tiang salib, maka pada pandangan orang-orang Yahudi beliau itu jelas-jelas tampil sebagai seorang pendusta.
Selengkapnya =>>