Tampilkan postingan dengan label Perbandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perbandingan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Juli 2008

Incest Dalam Al Qur`an vs Bible

Kemustahilan Incest Anak Adam
Tak seorang pun dari umat Kristen yang tertarik untuk membaca ayat-ayat Alkitab tentang incest (hubungan suami-istri) anak-anak Adam yang melahirkan keturunan bagi mereka. Demikian juga dengan umat Islam, tak ada yang tertarik untuk membaca ayat-ayat Al-Qur'an tentang hal tersebut. Namun demikian, uraian singkat di bawah ini, menunjukkan bahwa persoalan incest tersebut sangatlah penting dan prinsipil khususnya berkaitan dengan keabsahan firman Tuhan dalam sebuah kitab suci. Uraian di bawah ini, dengan jelas menunjukkan kelogisan dan kemustahilan ayat-ayat firman Tuhan dalam sebuah kitab suci.


INCEST DALAM AL-QUR'AN

Catatan Al-Qur'an mengenai persoalan incest anak-anak Adam dijelaskan secara umum dan sangat singkat. Mengingat hal ini, ada baiknya kita uraikan persoalan incest tersebut dimulai dari proses kejadian awal manusia (Adam dan Hawa) hingga incest anak-anak mereka:

Pertama, Allah menciptakan Adam dari tanah (QS. 3:59; 15:28; 55:14; 37:11; 15:29, 71:17; 32:7; 32:9).

Kedua, Allah menciptakan Hawa dari diri Adam (QS. 4:1; 39:6).

Ketiga, Adam dan Hawa berinses sebagai suami-istri yang memperkembangbiakkan manusia, laki-laki dan perempuan. Diantara mereka saling berinses sehingga bertambah banyak seperti sekarang ini.

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri (Adam), dan dari padanya Allah menciptakan isterinya (Hawa); dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. 4:1)

Incest anak-anak Adam dalam Al-Qur'an hanya dapat diketahui dari QS. 4:1 sebagaimana dikutip ayatnya di atas. Selebihnya, Al-Qur'an tidak menjelaskannya. Namun demikian, adalah hak Allah untuk menjelaskan atau tidak tentang incest anak-anak Adam ini, tetapi yang terpenting adalah bahwa Al-Qur'an sudah menjelaskan kepada umat manusia bahwa manusia pertama di dunia ini adalah Adam. Kemudian, dari diri Adam diciptakanlah Hawa sebagai istrinya. Dari keduanya, Allah memperkembangbiakkan manusia hingga sebanyak sekarang ini.

Reproduksi manusia melalui incest menurut ayat-ayat Al-Qur'an di atas, meski hanya secara singkat, cukuplah logis mengingat Al-Qur'an bukanlah buku sex yang menjelaskan proses reproduksi, tetapi sebuah kitab suci yang secara khusus diturunkan untuk menyeru jin dan manusia agar hanya menyembah kepada Allah saja. Disamping juga berbagai perintah dan larangan serta ancaman. Namun demikian, ajaran inti Al-Qur'an adalah ajaran Tauhid, yakni bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Dialah Raja yang sebenar-benarnya di jagat raya ini. Karena itu, sembahlah Dia saja, Tuhan pencipta semesta alam.


INCEST DALAM ALKITAB

Sebelum membahas persoalan incest dalam Alkitab, terlebih dahulu perhatikan dan cermati baik-baik ayat-ayat Kitab Kejadian berikut ini:
4:1. Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN."
4:2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani.

4:8. Kata Kain kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.

4:16. Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden.
4:17 Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya.

4:25. Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: "Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya."

5:3 Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya.
5:4 Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.
5:5 Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati.**
5:6. Setelah Set hidup seratus lima tahun, ia memperanakkan Enos.


Dari ayat-ayat Kitab Kejadian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

- Nama anak-anak Adam berturut-turut adalah: Kain (laki-laki), Habel (laki-laki), dan Set (laki-laki).
- Umur Adam 130 tahun ketika memperanakkan Set (laki-laki).
- Umur Adam 235 tahun ketika Set memperanakkan Enos.
- Setelah umur Adam 800 tahun, ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

KEMUSTAHILAN CATATAN ALKITAB TENTANG INCEST

Berdasarkan kesimpulan di atas, tanpa bisa dibantah lagi, terdapat dua kemustahilan catatan Alkitab berkaitan dengan incest anak-anak Adam, yaitu:

Pertama, kemustahilan incest Set yang memperanakkan Enos.

Sebagaimana disimpulkan di atas, ketika umur Adam 235 tahun, Set memperanakkan Enos, padahal Adam belum memperanakkan anak perempuan hingga umur 800 tahun. Lalu, dengan siapa Set berincest sehingga memperanakkan Enos? Tentu, ini sebuah kemustahilan catatan Alkitab.

Kedua, kemustahilan incest Kain yang memperanakkan Henokh.

Sebagaimana dijelaskan Alkitab, Adam baru memperanakkan anak perempuan ketika ia berumur 800 tahun. Adam memperanakkan putra ketiganya, Set, ketika ia berumur 130 tahun. Dengan demikian, maka Adam memeperanakkan putra pertamanya, Kain, jauh sebelum umur Adam mencapai 130 tahun.

Jika diasumsikan umur Adam 120 tahun ketika mempertanakkan Kain, dan anak perempuan pertama Adam berumur 20 tahun ketika diambil istri oleh Kain, maka umur Kain ketika berincest dengan istrinya adalah 700 tahun. Sebuah catatan yang tidak masuk akal! Seorang laki-laki normal harus menunggu waktu selama 700 tahun untuk berincest dengan pasangannya.

Lebih jauh, Alkitab mencatat bahwa Kain pergi dan menetap di tanah Nod dan beranak-cucu di sana hingga mendirikan sebuah kota yang bernama Henokh. Dari mana Kain mendapatkan istrinya? Bukankah manusia pertama menurut Alkitab adalah Adam?

Dengan demikian, jelaslah bahwa ayat-ayat Alkitab di atas sama sekali bukan firman Tuhan, karena mengandung catatan kemustahilan yang sangat fatal. Ayat-ayat di atas, tampaknya lebih merupakan penjabaran dari firman Tuhan yang sebenarnya yang telah dicorengkan secara ngawur oleh tangan-tangan jahil Bani Israel dalam Kitab Kejadian.

Pantaskah manusia beriman pada kemustahilan firman Tuhan dalam Alkitab?


Keterangan:

**Kejadian 5:1-5 adalah berasal dari Sumber P, ayat-ayat selanjutnya sampai dengan Kejadian 5:32 menggunakan Sumber E. Akibatnya, redaksinya menjadi kacau balau dan menimbulkan kontradiksi yang sangat fatal. Selengkapnya =>>

Hari Tuhan Dalam Al Qur`an dan Alkitab

Sepintas lalu, ketika kita membaca kata "hari" baik dalam Al-Qur'an maupun Alkitab, khususnya yang berkaitan dengan "hari" di sisi Tuhan, kelihatan sepele, tidak penting, dan dibaca sambil lalu saja. Namun demikian, dalam uraian singkat di bawah ini kita akan menemukan sebuah konsep "hari" di sisi Tuhan yang amat penting dan prinsipil yang menunjukkan kelogisan dan kemustahilan sebuah catatan kitab suci.


HARI TUHAN DALAM AL-QUR'AN

Kita tidak menemukan kejanggalan dalam Al-Qur'an mengenai konsep "hari" di sisi Tuhan. Secara tegas, dua kali Allah berfirman dalam Al-Qur'an menyangkut "hari" di sisi-Nya:

[QS.22:47] Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.

[QS.32:5] Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.

Menurut dua ayat Al-Qur'an di atas, satu "hari" di sisi Allah adalah seperti seribu tahun menurut perhitungan manusia. Ringkasnya, menurut Al-Qur'an, konsep "hari" di sisi Allah berbeda dengan konsep "hari" menurut perhitungan manusia dimana satu "hari" lamanya hanya 12 jam saja.** Dan ini cukup logis mengingat Allah tidak bertempat tinggal di bumi, tetapi di atas 'Arasy (QS.13:2; 20:5), sehingga tidak perlu "hari"-Nya dihitung berdasarkan terbit-terbenamnya matahari seperti manusia menghitung lamanya hari. Matahari, hanyalah salah satu bintang dari milyaran bahkan trilyunan bintang yang diciptakan-Nya.


HARI TUHAN DALAM ALKITAB

Sebelum menguraikan lebih lanjut mengenai konsep "hari" di sisi Tuhan menurut Alkitab, maka ayat-ayat Alkitab yang berkenaan dengan "hari" Tuhan disuguhkan di bawah ini:

Kitab Keluaran:

20:8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
20:9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
20:10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
20:11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

(Harap baca juga Kitab Keluaran 31:12-18).

Menurut catatan Alkitab dalam Kitab Keluaran 20:11 di atas, dinyatakan bahwa "enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi dan segala isinya dan Tuhan berhenti bekerja pada hari ketujuh". Karena itulah "Tuhan memberkati hari Sabat (Sabtu) dan menguduskannya".

Tak bisa dibantah lagi, menurut Kitab Keluaran di atas, Tuhan menciptakan langit dan bumi dan segala isinya selama enam "hari" yang lamanya sama persis seperti "hari" menurut perhitungan manusia, yakni 12 jam.

Dijelaskan dalam ayat-ayat Kitab Keluaran di atas, bahwa "Tuhan berhenti pada hari ketujuh", yakni pada hari Sabat atau hari Sabtu. Sehingga, "enam hari penciptaan langit dan bumi dan segala isinya" adalah Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat.

Jadi, sekali lagi, konsep "hari" di sisi Tuhan menurut Alkitab adalah sama dengan konsep "hari" menurut perhitungan manusia, yakni selama 12 jam saja.

KEMUSTAHILAN HARI TUHAN DALAM ALKITAB

Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, bahwa satu "hari" di sisi Tuhan menurut Alkitab adalah sama dengan satu "hari" menurut perhitungan manusia, maka ayat-ayat Alkitab di bawah ini yang menunjukkan kemustahilan "hari" Tuhan harus disuguhkan berikut ini:

Kitab Kejadian:

1:3. Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.
1:4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

1:14. Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,
1:15 dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.
1:16 Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.
1:17 Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,
1:18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
1:19 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.

2:1. Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya.
2:2 Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.
2:3 Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa manusia menghitung lamanya "hari" berdasarkan terbit dan terbenamnya matahari terhadap bumi. Terbit dan terbenamnya matahari ini, tidak lain disebabkan oleh perputaran bumi pada porosnya (rotasi) terhadap matahari, sehingga terjadilah apa yang disebut siang dan malam.

Sehubungan dengan hal tersebut, catatan Alkitab dalam Kitab Kejadian di atas menunjukkan kemustahilan "hari" Tuhan dalam Alkitab.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa satu "hari" di sisi Tuhan dalam Alkitab adalah sama dengan satu "hari" menurut perhitungan manusia, maka Kejadian 1:3-5 menunjukkan kemustahilan "hari" Tuhan. Menurut Kejadian 1:5, Tuhan menciptakan siang dan malam pada "hari" pertama, yakni Minggu. Padahal, menurut Kejadian 1:16, matahari, yang menjadi penyebab terjadinya siang dan malam, baru diciptakan pada "hari" keempat atau Rabu. Lebih jauh, bagaimanakah Alkitab menetapkan "hari" pertama (Minggu), kedua (Senin), dan ketiga (Selasa) pada tahapan penciptaan langit dan bumi, sementara matahari baru diciptakan pada "hari" keempat (Rabu)?

Lebih jauh lagi, Tuhan tidak bertempat tinggal di bumi, tetapi di suatu tempat yang tidak dapat dijangkau oleh manusia. Kita bisa membayangkan, betapa luasnya jagat raya ini, ada milyaran bahkan trilyunan bintang atau "matahari" di jagat raya ini. Bagaimana mungkin satu "hari" di sisi Tuhan sama dengan 12 jam seperti perhitungan manusia? Memangnya Tuhan bertempat tinggal di bumi sampai hari kiamat? Menurut banyak ayat dalam Alkitab (al. Matius 5:16), Tuhan bertempat tinggal di sorga. Pertanyaannya, apakah di sorga ada matahari sehingga lamanya "hari" Tuhan sama dengan lamanya "hari" manusia di bumi?

Dengan demikian, maka konsep "hari" Tuhan yang semula dianggap remeh oleh para pembaca Alkitab, sekarang menemukan identitasnya, yaitu bahwa Alkitab sama sekali bukan firman Allah, tetapi merupakan karangan manusia yang masih sangat terbatas wawasannya pada waktu itu khususnya menyangkut ilmu ruang angkasa. Akankah kita beriman pada kemustahilan catatan Alkitab seperti ini?????????????????????!!

Keterangan:

**12 jam adalah perkiraan lamanya waktu dalam sehari di bumi, yang perhitungannya diambil dari zone waktu sepanjang garis katulistiwa. Selengkapnya =>>