Doktrin Trinitas, yang merupakan unsur dasar dalam dogma Kristen, tidak ada dalam ajaran Kristen semasa hidup Yesus Kristus. Paling orang dapat menyatakan bahwa doktrin tersebut mulai terbentuk sesudah Penyaliban. Doktrin ini memakan waktu berabad-abad lamanya untuk mencapai bentuk terakhimya yang terdefinisikan dengan baik, tetapi tidak dapat dipahami. Doktrin ini melewati suatu proses panjang perdebatan sangat sengit dan kontroversial di kalangan para theolog dan pemikir Kristen yang berasal dari latar belakang agama, budaya dan tradisi yang berbeda.
Doktrin ini sangat dipengaruhi oleh mitologi/dongeng--dongeng dan tradisi-tradisi dari berbagai negeri yang menerima Kristen pada masa-masa awalnya. Akan tetapi pangkal utama ajaran Kristen, yang merawat dan memelihara perkembangan ajaran-ajaran serta falsafah Kristen dalam peran pembentukkannya pada masa awal, adalah bangsa Yahudi. Pengaruh Yahudi tetap sangat dominan selama babak permulaan sejarah Kristen. Murid-murid Yesus, yang telah mempelajari dan memahami Kristen langsung dari Yesus dan menyaksikannya dalam bentuk kehidupan Yesus sendiri, berasal dari bangsa itu. Mereka adalah para penjaga utama ajaran Kristen dan memiliki akar-akar yang tertanam mendalam pada tanah suci pengarahan-pengarahan Yesus serta pada cara hidup (sunnah) beliau. Merekalah yang menyaksikan Penyaliban dan telah melihat Yesus selamat dari upaya pembunuhan yang dilakukan terhadap beliau.
Para Pengikut Awal Yesus
Pada dasarnya orang-orang Kristen awal terbagi baik berdasarkan pada kedua keadaan alami Yesus, maupun berdasarkan pada mengikuti Syariat Musa atau tidak. Dalam fase kedua perkembangan Kristen, Paulus menemukan karakter yang paling penting dalam memberikan suatu falsafah dan ideologi baru pada ajaran Kristen. Terdapat perbedaan pendapat mendasar antara Paulus dan James the Righteous (James sang siddiq). Sementara James menjaga Gereja Yerusalem, Paulus menyampaikan ajaran ke Barat, khususnya kepada orang-orang yang bukan Yahudi. Gereja Barat berkembang berdasarkan garis-garis doktrinasi Paulus, sedangkan Gereja Yerusalem berkembang berdasarkan ajaran-ajaran ke-Esa-an Tuhan.
Salah satu cabang aliran James adalah Ebion (Ebionite), sebuah sekte yang namanya berasal dari kata Ibrani, ebionim yang berarti "penurut" atau "miskin/sederhana." Mereka adalah orang-.orang Kristen Yahudi, yang untuknya Yesus tampil dalam jubah Mesias dan bukan sebagai Anak Tuhan. Mereka mengikuti Syariat Musa dengan ketaatan penuh, dan mereka mempunyai Injil mereka sendiri yang dikenal dalam berbagai konteks sebagai "Injil orang-orang Ibrani," "Injil orang-orang Ebion" atau "Injil orang-orang Nazaret." Berikut ini sebuah gambaran tentang orang-orang Ebion yang diambil dari berbagai sumber.
Dalam bukunya "The History of the Church" yang ditulis pada abad ke-4 sesudah Masehi di Caesaraea, Eusebius memaparkan tentang orang-orang Ebion dalam Buku 3, Vespasian to Trajan. Dia mencemoohkan pandanganpandangan mereka, dengan mengatakan bahwa nama mereka berasal dari pandangan mereka yang sederhana dan polos tentang Yesus. Orang-orang Ebion menganggap Yesus sebagai makhluk hidup [yang tidak abadi] dan menjunjung beliau sebagai orang yang benar melalui perkembangan karakter/sifat beliau. Sebagai orang Yahudi, mereka melaksanakan Sabat dan segala rincian Hukum Syariat, serta tidak menerima pemikiran Paulus tentang keselamatan melalui iman semata.
Eusebius juga berbicara tentang sebuah kelompok lain dari orang-orang Ebion yang menerima tentang melahirkan dalam keadaan perawan dan Ruhul Kudus, tetapi menolak konsep bahwa Yesus itu sebelumnya merupakan "Tuhan [dalam bentuk] Firman dan Kebijaksanaan." Mereka mengikuti sebuah "Injil orang-orang Ibrani" yang kemungkinan merupakan Injil Matius. Mereka melaksanakan Sabat dan sistim Yahudi, tetapi merayakan kebangkitan (resurrection).1
R.Eisenman dan M.Wise ketika memaparkan latar belakang orang-orang Ebion dalam buku mereka The Dead Sea Scrolls Uncovered (1992) mengatakan bahwa James (the "Zaddik" atau "Zadok", artinya: orang yang benar); merupakan pemimpin Gereja Yerusalem pada pertengahan abad pertama (sekitar tahun 40-60 sesudah Masehi). Cabang ini dahulu disebut agama Kristen Yahudi di Palestina. Kelompok Ebion tumbuh dari gereja ini.2
Jemaat yang mengikuti James dikenal sebagai "orangorang miskin" (Galatia 2:10, James 2:3-5) suatu sebutan yang disinggung baik dalam Sermon on the Mount maupun dalam Dead Sea Scrolls. Dalam banyak segi, Eisenman merasakan bahwa orang-orang Ebion sama dengan para penulis Dead Sea Scrolls (Naskah-naskah Laut Mati). Mereka menghormati James sang siddiq, dan percaya bahwa Yesus adalah Mesias mereka yang merupakan makhluk tidak abadi (mortal), sedangkan Paulus [bagi mereka] telah menjadi seorang yang murtad di hadapan Syariat. Mereka menjalankan Syariat dan Sabat dengan penuh keitaatan. Mereka menempatkan James pada kehormatan yang tertinggi, sedangkan Paulus mereka anggap sebagai "musuh" (Matius 13:25-40). 3
Menurut Baigent, Leigh dan Lincoln dalam The Messianic Legacy, sumber ajaran-ajaran asli kelompok Ebion, Gnostik,
Manichean, Sabian, Mandean, Nestorian dan Elkasit telah dipaparkan sebagai falsafah Nazarene. Mereka menyebut pemikiran Nazarene sebagai:
"Suatu orientasi terhadap Yesus dan ajaran-ajarannya yang terutama berasal dari posisi asli orang-orang Nazaret, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Yesus sendiri, kemudian disebar-luaskan oleh James, Juda atau Judas Thomas dan rombongan mereka yang terbentuk cepat. Kepercayaan-kepercayaan mereka adalah:
1. ketaatan sepenuhnya pada Syariat Musa
2. pengakuan terhadap Yesus sebagai Almasih
3. kepercayaan terhadap kelahiran Yesus sebagai kelahiran manusia biasa
4. permusuhan terhadap pandangan-pandangan Paulus
Ada sebuah koleksi manuskrip bahasa Arab tersimpan pada sebuah perpustakaan di Istanbul yang memuat kutipan-kutipan dari sebuah teks abad kelima atau keenam yang dianggap berasal dari al-nasara, tertulis dalam bahasa Syiriak dan ditemukan di sebuah biara di Khuzistan, barat-daya Iran dekat perbatasan Iraq. Manuskrip itu menggambarkan pandangan-pandangan silsilah Nazarene yang melarikan diri dari Yerusalem sesudah kehancurannya pada tahun 66 sesudah Masehi. Manuskrip itu menyebut Yesus sebagai seorang manusia dan menekankan pada Syariat Yahudi. Para pengikut Paulus "meninggalkan agama Kristus dan beralih kepada doktrin-doktrin agama orang-orang Romawi."4
Dari ajaran berbagai macam doktrin yang berkembang selama tahap-tahap pembentukan ajaran Kristen, pilihan untuk diakui hanya pantas diberikan kepada orang-orang yang percaya kepada ajaran-ajaran orang-orang Namret. Orang-orang Kristen masa awal ini telah diajarkan makna Kristen oleh Yesus sendiri.
Peran Paulus
Jelas bahwa Paulus dan sektenya tidak berasal dari situ. Pada kenyataannya, sejak masa Paulus dan seterusnya, dengan berkembangnya agama Kristen ke negeri-negeri asing dan ke dalam kepercayaan-kepercayaan penyembah berhala (pagan) di Kerajaan Romawi, ajaran Kristen sangat dipengaruhi dan dibengkokkan oleh budaya-budaya serta mitologi/dongeng-dongeng yang umum di negeri-negeri itu dan semakin menyimpang jauh dari kemumiannya. Paulus memainkan peranan dalam mempengaruhi kerusakan pemikiran Kristen dengan cara memperkenalkan mistik/kebatinan dari dirinya sendiri. Dia bukan berasal dari Bani lsrail dan tidak pula memiliki hubungan langsung dengan Yesus, kecuali melalui rukya/kasyaf pengakuannya sendiri. Dia saat itu tampaknya sudah sangat terpengaruh oleh budaya-budaya asing.
Tampaknya terdapat dua pilihan bagi Paulus saat itu, melakukan peperangan sengit terhadap sebuah dunia takhayul, mitologi dan legenda yang sudah umum terdapat di negeri-negeri Kerajaan Romawi sejak zaman dahulu, atau menyerah pada mereka dan membiarkan Kristen mengalami perubahan sehingga sesuai bagi kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan mereka. Hal itu memberikan pesan kepada mereka bahwa ajaran Kristen tidaklah berbeda secara mutlak dari legenda-legenda dan mitologi-mitologi mereka. Paulus mendapati bahwa penerapan pilihan kedua jauh lebih menguntungkan dan menyenangkan serta membiarkan Kristen mengalami perubahan sesuai keinginan-keinginan dan falsafah-falsafah yang populer di dunia non-Yahudi.
Strategi ini berhasil dengan baik, misalnya dengan diperolehnya jumlah besar orang yang menerima ajaran baru itu, yang kalau tidak dibuat demikian sulit untuk memperolehnya. Namun, apa akibatnya? Sangat disayangkan, hal itu hanya berakhir pada suatu kompetisi kotor antara nilai-nilai mulia Kristen dengan mitologimitologi para penyembah berhala. Yang diubah oleh Paulus hanyalah nama dewa-dewa para penyembah berhala dan menggantikan-nya dengan Yesus, Tuhan Bapak dan Ruhul Kudus. Memang bukan dia yang menemukan mitologi Trinitas dan memperkenalkannya pada dunia para penyembah berhala dengan mengatas-namakan Kristen, sebaliknya dia meminjam mitologi Trinitas dari mitologi para penyembah berhala dan memasukkannya ke dalam Kristen. Sejak saat itu yang ada ialah tetap penyembahan berhala lama, tetapi nama-namanya saja yang baru dan wajahwajahnya baru.
Agama Kristen Paulus, dengan demikian, tidak berhasil merubah doktrin-doktrin, mitologi-mitologi dan takhayultakhayul dunia penyembah berhala, bahkan hanya berakhir dengan merubah ajaran Kristen sesuai dengan semua itu. Jika gunung tidak menanggapi panggilannya, maka dia memutuskan untuk pergi saja ke gunung itu.
Kenyataan Yesus yang Sebenarnya
Memang merupakan hak setiap orang untuk memilih antara Kristen Paulus dan James sang siddiq serta para pemuka Kristen lainnya pada masa awal yang merupakan murid-murid langsung Yesus Kristus. Namun, di sini kami ingin menekankan bahwa golongan utama Kristen berlanjut mengalami perkembangan di sepanjang garis-garis Tauhid/Keesaan dan tetap menjauhkan diri dari perubahanperubahan baru yang melahirkan dogma-dogma Kristen yang bertele-tele dan kacau seperti rangkaian tuhan di mana Yesus sebagai Anak Tuhan, Trinitas, Dosa Warisan, Penebusan Dosa, hidupnya Yesus kembali secara jasmani, dan sebagainya. Pandangan-pandangan para pemuka Gereja masa awal–yang di antaranya paling menonjol adalah James sang siddiq–sederhana dan jujur serta tidak memiliki pertentangan atau paradoks internal yang bersembunyi di balik kepulan asap misteri. Suatu penelaahan terhadap sejarah Tauhid dalam ajaran Kristen menampilkan fakta yang tak terbantahkan bahwa Keesaan Tuhan, yang tidak dicemari oleh slogan Trinitas, tetap merupakan doktrin resmi Gereja Kristus sejati dalam kemurniannya yang asli.
Harap diingat bahwa risalah ringkas ini bukanlah suatu upaya untuk memindahkan orang-orang Kristen kepada keimanan lain manapun di luar ajaran Kristus. Ini merupakan suatu upaya murni untuk mengajak orang-orang Kristen kembali kepada keimanan dan kebiasaan (sunnah) murni Yesus yang tidak tercemar. Ini merupakan upaya tulus untuk mengembalikan kisah dongeng kepada kisah nyata ajaran Kristen – yaitu kisah-kisah nyata yang sudah tentu sangat indah sebab sangat realistik dan memuaskan akal serta kalbu sekaligus.
Selama hampir dua ribu tahun, bukanlah legendalegenda yang dirakit di sekeliling realitas Yesus Kristus yang telah membuat Kristen menyatu dan menolongnya tetap bertahan hidup dari tantangan-tantangan logika/akal dan tetap mengalami pencerahan di hadapan kemajuan sains, dan tidak pula kebertahanannya itu disebabkan oleh kepercayaan mistik Trinitas. Yang telah membuat kebenaran serta hakikat Kristen tetap utuh adalah keindahan pribadi dan ajaranajaran Yesus Kristus. Yakni, amal-perbuatan mulianya, bukan sosok tuhan pada diri Yesus, yang sangat indah untuk dianut. Adalah penderitaan, ketabahan dan keteguhan demi tujuantujuan mulia dan penolakan beliau yang tegas terhadap segenap upaya aniaya untuk membuat beliau merubah ajaran-ajaran beliau itulah yang merupakan tulang punggung sejati agama Kristen. Hal itu masih tetap indah dan sangat patut dicintai seperti sediakala hingga saat ini. Hal itu telah memberikan pengaruh besar pada pemikiran-pemikiran dan kalbu-kalbu orang Kristen sehingga mereka tetap terpaut pada Yesus, dan memilih untuk menutup mata mereka terhadap ketimpangan-ketimpangan logika daripada memutuskan hubungan dari beliau.
Keagungan beliau yang sebenarnya terletak pada fakta bahwa beliau telah berhasil mengatasi dan telah menaklukkan kekuatan-kekuatan gelap yang bersekongkol untuk mengalahkan beliau meskipun beliau seorang manusia lemah dan tidak lebih dari seorang manusia. Kemenangan Yesus itu adalah sesuatu yang [layak] dinikmati bersama dengan penuh kebanggaan oleh anak keturunan Adam. Sebagaimana kami memandang hal itu dari sudut pandang Muslim, beliau adalah seorang anak keturunan Adam yang sangat mulia. Beliau telah mengajarkan peri kemanusiaan melalui suri tauladan beliau yang teguh dalam menghadapi penderitaan dan keperihan yang sangat berat. Tidak untuk takluk, melainkan untuk tetap teguh dalam cobaan beratlah yang merupakan keberhasilan Yesus yang paling mulia. Hidupnya yang penuh penderitaan dan keperihan itulah yang telah menyelamatkan umat manusia dan membuat beliau berhasil menaklukkan kematian. Jika beliau secara suka-rela telah menerima kematian, hal itu sama saja seperti suatu upaya untuk melarikan diri dari penderitaan beliau.
Bagaimana mungkin orang dapat menganggap hal itu sebagai suatu sikap berani? Bahkan sikap orang-orang yang melakukan bunuh diri, di bawah tekanan yang sangat besar, dianggap sebagai suatu perbuatan pengecut semata. Menghadapi penderitaan dalam hidup adalah jauh lebih baik dari menghindari penderitaan melalui kematian. Oleh karena itu, konsep pengorbanan tertinggi Yesus dengan cara menerima kematian demi umat manusia, adalah suatu ungkapan perasaan dangkal yang tidak memiliki dasar.
Kebesaran Yesus, sekali lagi kami tekankan, terletak pada pengorbanan tertinggi beliau selama masa hidup beliau. Seluruh hidupnya, beliau melawan godaan-godaan yang mengajak untuk menyerah dan menukar suatu kehidupan penuh penderitaan dengan kehidupan nyaman dan tenteram. Siang malam beliau menghadapi kematian tetapi menolak menyerah, dan hidup demi orang-orang yang berdosa untuk membawa mereka hidup kembali. Beliau telah menaklukkan kematian tidak dengan cara menyerahkan diri beliau pada kematian, tetapi dengan cara menolak tunduk kepada kematian itu. Beliau telah mengalahkan kematian itu sepenuhnya dan telah berhasil keluar dari cengkeramannya, yang mana seorang manusia lemah akan hancur [bila mengalaminya]. Demikianlah beliau telah membuktikan kebenaran beliau dan kebenaran kata-kata beliau tanpa ragu sedikit pun. Seperti itulah kami melihat Yesus dan itulah sebabnya kami mencintai beliau. Suara beliau adalah suara Tuhan dan bukan suara ambisi beliau sendiri. Beliau telah mengucapkan apa-apa yang telah diperintahkan kepada beliau, tidak kurang dan tidak lebih dari apa yang telah Tuhan perintahkan kepada beliau untuk dikatakan. Beliau menyembah Tuhan sepanjang hidup beliau dan hanya Dia semata yang beliau sembah, serta tidak pemah beliau meminta makhluk apa pun agar bersujud di hadapan beliau atau di hadapan ibu beliau atau Ruhul Kudus. Inilah fakta kenyataan Yesus, yang ke arahnyalah kami mengimbau orang-orang Kristen dari berbagai sekte dan aliran untuk kembali.
Kesinambungan Agama
Kami percaya pada kesinambungan dan keuniversalan agama-agama. Itulah sebabnya Islam memberikan penekanan-penekanan demikian pada lembaga Kenabian sebagai suatu fenomena universal, yang berarti bahwa para nabi harus diterima secara keseluruhan. Penolakan terhadap satu orang saja dari seluruh nabi itu berarti penolakan terhadap semuanya, sebab pada kenyataannya seseorang tunduk kepada para nabi hanya dalam pandangan bahwa para nabi itu berasal dari satu sumber yang sama. Dalam konteks ini, istilah "kesinambungan" (continuity) hendaknya dipahami sebagai sesuatu yang mirip tetapi tidak sepenuhnya sama seperti evolusi kehidupan. Kami percaya pada perkembangan risalah (ajaran agama), maju secara bertahap bersama kemajuan umum manusia dalam segala sisi aktifitas manusia. Tampak bahwa agama-agama yang diwahyukan terdahulu, kendatipun memiliki dasar ajaran yang sama, mencakup rincian perintah yang wilayahnya relatif lebih kecil. Artinya, sejumlah kecil perintah dan larangan. Kemudian secara bertahap berkembang menjadi perintah dan larangan dalam jumlah yang lebih besar mencakupi kawasan yang lebih luas pada aktifitas manusia. Juga tampak bahwa agama-agama pada peradaban
peradaban kuno diperuntukkan bagi sasaran yang relatif lebih kecil pada suku-suku atau kaum-kaum atau kawasankawasan tertentu. Ajaran agama-agama itu terbatas pada kebutuhan-kebutuhan zaman itu. Agama-agama itu lebih tepat disebut sebagai agama-agama suku, kaum, atau bangsa. Kasus Bani Israil dan ajaran-ajaran Yahudi merupakan suatu ilustrasi yang cocok untuk membuktikan hal ini.
Dengan demikian, kecenderungan arah perkembangan sejarah bisa diringkas dalam dua rentetan:
Kesinambungan itu tidak berarti bahwa agama yang telah di wahyukan kepada Adam secara berkesinambungan ditujukan kepada umat manusia dan secara bertahap telah mengalami suatu perubahan progresif yang bertahap, memperluas wilayah hukum dan perintahnya. Yang dimaksudkan adalah, di belahan-belahan dunia yang berbeda, di mana telah berakar dan berkembang peradabanperadaban yang berbeda, wahyu-wahyu Ilahi telah melahirkan agama-agama tertentu yang berkaitan dengan perkembangan-perkembangan sosial manusia di kawasankawasan dunia tersebut. Seluruh agama itu, mengalami perkembangan ke arah yang sama secara umum.
Puncak Perkembangan Agama-Agama
Dari segenap golongan/kelompok agama yang ada, kami percaya bahwa satu yang berada di timur tengah telah dipelihara dan dibudidayakan untuk melahirkan agamaagama besar tertentu yang akan berperan sebagai haluan utama dalam evolusi agama-agama di dunia. Hal ini sangat nyata terbukti dari suatu penelaahan sejarah agama. Agama Yahudi diikuti oleh Kristen, dan diikuti oleh Islam, dengan jelas mengisyaratkan pada arah evolusi ajaran-ajaran agama. Di antara agama-agama ini, perkembangan ajaran-ajaran dapat dengan mudah ditelusuri ke belakang dan ke depan, serta tampak sangat terkait satu sama lain. Oleh karena itu sangat penting untuk memahami rencana agung ini, yang bermuara dan benar-benar bermuara pada penyempurnaan ajaran-ajaran tersebut dalam bentuk sebuah agama universal, yaitu Islam.
Dalam konteks ini, terletak pada kepentingan orang-orang Yahudi untuk secara sungguh-sungguh dan tanpa prasangka memahami pentingnya Yesus Kristus. Dengan gagalnya mereka mengenali Yesus, kasus orang-orang Yahudi itu menjadi sama seibarat sekian banyak spesies hewan yang terkubur jauh dalam sejarah evolusi, yang tidak lagi memainkan peranan vital dalam perkembangan pohon kehidupan di sekitar puncaknya. Dengan demikian, agama Yahudi hanya tinggal sebagai suatu sisa sejarah, tetapi tetap berlanjut mempertahankan hidup dalam kawasan keberadaannya yang sempit.
Begitu pula kasus orang-orang Kristen adalah sama seperti orang-orang Yahudi, hanya saja mereka selangkah lebih maju dari orang-orang Yahudi, lebih dekat pada Islam dari segi urutan. Yang paling penting adalah, penyimpanganpenyimpangan dari jalan yang ditempuh Yesus Kristus ke suatu jalan kemerosotan yang telah dirancang bagi mereka oleh Paulus, telah membawa mereka lebih menjauh dari Islam dibandingkan Yahudi. Umat Yahudi, setelah lebih dari empat ribu tahun keberadaan mereka, paling tidak telah mempelajari ajaran Keesaan (Tauhid) yang vital bagi kehidupan ruhaniah agama mana pun. Namun, di samping kedekatan terhadap Islam dalam doktrin-doktrin dasar ini, terdapat sejumlah besar faktor-faktor lain yang membuat orang-orang Yahudi ini lebih keras menolak menerima Islam.
Penelaahan ini membuat saya percaya bahwa kalau orang-orang Yahudi tidak menimbulkan kerangka pikiran dan sikap yang merupakan suatu syarat untuk memahami Kristus, meskipun mereka memiliki doktrin-doktrin yang sama, mereka akan tetap terpisah lebih jauh dari Islam dibandingkan orang-orang Kristen. Mereka telah kehilangan suatu mata-rantai sangat vital, yakni Yesus Kristus, antara mereka dan kedatangan Nabi Muhammad saw.. Pengingkaran mereka terhadap kebenaran ini telah membuat mereka jadi keras sedemikian rupa sehingga mereka secara mental tidak siap untuk menerima pesan baru. Mereka tetap saja masih menunggu Kristus, sementara Kristus telah datang dan pergi. Satu kali mereka gagal mengenali beliau, mereka tidak jauh berbeda dalam mengenali beliau kembali pada kedatangan beliau yang kedua. Tampaknya mereka telah ditakdirkan untuk menunggu secara abadi Kristus versi impian mereka.
Adalah Kristus yang bertugas mempersiapkan jalan bagi agama berikutnya yang lebih tinggi, yakni Islam. Pemyataan ini hendaknya tidak ditanggapi terlalu kaku. Kami tidak menyatakan bahwa orang-orang Yahudi harus terlebih dahulu menerima Kristen dan kemudian mengambil langkah berikutnya masuk Islam. Suatu panorama manifestasimanifestasi keagamaan menjadi terlalu naif ketika itu terjadi. Yang kami coba paparkan adalah, suatu umat yang telah menolak seorang nabi atau seorang rasul, yang bukan seorang nabi biasa melainkan yang memainkan suatu peran sangat penting dalam pelatihan mental dan ruhani umat tersebut, mereka lakukan demikian hanya jika mereka dalam kondisi sakit secara ruhani maupun mental. Jika penyakit telah diobati dan sikap tercela terhadap kebenaran telah diperbaiki, maka mereka tampaknya akan mengikuti seorang nabi yang telah ditempatkan pada jalur yang telah hilang bagi mereka.
Sejauh yang berkaitan dengan sikap orang-orang Kristen, mereka hanya dapat digiring kepada kebenaran Nabi Muhammad jika mereka kembali kepada kebenaran dan realita Yesus Kristus. Beliau tidak hanya merupakan jalan menuju Tuhan, tetapi juga, sebagaimana segenap nabi lainnya, merupakan jalan yang membawa kepada nabi yang telah ditakdirkan datang sesudah beliau.
Yesus hanyalah mata-rantai tengah dalam kiasan kebun anggur. Perwakilan sempuma Tuhan masih akan datang. Oleh sebab itu, jika umat Kristen tidak kembali dari sosok Yesus Kristus yang keliru, khayalan, dan berbau dongeng itu lalu menuju kepada kenyataan junjungan suci mereka yang lebih agung dan mulia, maka mereka tidak dapat diarahkan ke jalan yang telah mengaitkan Yesus Kristus dengan Nabi Muhammad s.a.w.
Nabi Muhammad adalah suatu realita dan bukan sebuah kisah dongeng, dan hanya realita lah yang dapat menghubungkan realita-realita lainnya. Oleh sebab itu, fakta Kristus lah – bukan kisah dongeng yang ke dalamnya beliau telah dimasukkan – yang akan memberkati umat Kristen untuk mengenali kebenaran Nabi Muhammad.
1. Eusebius; The History of the Church, halaman 90-91, (Penguin 1989)
2. The Dead Sea Scroll Uncovered, R. Eisenman & M. Wise, p.186, (Element Books, 1992).
3. The Dead Sea Scroll Uncovered, R. Eisenman & M. Wise, p. 233-234, (Element Books, 1992).
4. The Messianic Legacy, M. Baigent, R. Leigh, H. Lincoln, p.135-138 (Corgi Books)
Selengkapnya =>>
Rabu, 20 Agustus 2008
Evolusi Ajaran Kristen
Minggu, 17 Agustus 2008
Trinitas (2)
Oknum-oknum Berbeda dengan Sifat-sifat Berbeda
Jika Tuhan Bapak, Yesus dan Ruhul Kudus merupakan tiga oknum dengan sifat-sifat pribadi yang sama sekali tidak dimiliki oleh yang lain, maka mereka tidak dapat dianggap sebagai "Tiga dalam Satu" dan "Satu dalam Tiga." Penyatuan total dari Trinitas menjadi Kemanunggalan hanya dapat dimengerti apabila karakter-karakter, sifat-sifat, fungsi-fungsi dan segenap kemampuan yang dimiliki oleh ketiga oknum menjadi sama satu sama lain, tanpa adanya perbedaan apapun yang membedakan satu sama lain.
Hal ini mengetengahkan sebuah skenario yang dalam tahap tertentu dapat disukai, yakni kembar tiga yang mirip, yang akal oknum berbeda yang tidak memiliki status yang setara serta sifat sifat yang sama.
Dalam contoh ini, hanya ada satu yang layak disembah dan dua oknum lainnya yang secara logika sebagai wujud lebih rendah, diharapkan menyembah yang satu itu. Jawabannya, sekali lagi, dapat diterima kecuali bahwa "Kemanunggalan dalam Trinitas" itu akan punah. Tidak mungkin bagi anda untuk menerima "Tiga dalam Satu" dan "Satu dalam Tiga" keduanya sekaligus.
Hal ini mengingatkan saya pada sebuah lelucon yang ingin saya ceritakan bersama anda. Dikisahkan bahwa Joha, seorang pelawak istana terkenal, begitu menggelikan bagi Timurleng pada waktu penyerbuannya ke Baghdad, sehingga dia memutuskan untuk membawanya sebagai pampasan perang dan menunjuknya sebagai kepala pelawak istana. Suatu kali dikisahkan bahwa Joha merasa ingin sekali makan daging sendirian sehingga dia tidak dapat menahannya lagi.
Maka dia membeli dua kilo daging terbaik yang tersedia di tukang daging. Ketika menyerahkan daging tersebut kepada istrinya, dia memerintahkannya agar menyiapkan daging panggang lezat dari itu, dan tidak ada yang boleh menyentuhnya, termasuk istrinya kecuali dia. Akan tetapi malangnya bagi Joha, begitu istrinya selesai masak, beberapa saudara istrinya datang secara mengejutkan. Hal itu merupakan kejutan yang menyenangkan bagi sang istri, tetapi bakal menjadi kejutan yang tidak mengenakkan bagi Joha.
Aroma menggoda dari daging yang baru saja dipanggang itu terlalu menggoda bagi mereka untuk dihindari, dan apa yang terjadi berikutnya sudah dapat ditebak secara logika. Setelah selesai menyantapnya, mereka dengan senang hati pamit kepada saudara perempuan mereka yang tampak agak risau itu. Akhirnya sang istri mempersiapkan diri dengan alasan yang tepat manakala Joha pulang ke rumah. Ketika Joha juga mencium bekas makanan, dengan rasa ingin tahu yang besar dia menanyakan dagingnya yang dua kilo tadi, maka sang istri memberikan tanggapan dengan menunjuk pada kucing peliharaan kesayangan Joha, dan berkata: "Ambillah dagingmu dari kucing ini, jika engkau bisa. Ketika saya sibuk bekerja, kucing ini telah menghabisi semua daging panggang." Atas hal itu Joha langsung mengambil kucing itu dan menimbangnya di timbangan.
Ternyata si kucing beratnya pas dua kilo. Lalu dia dengan lembut berbalik ke istrinya dan menanyakan: "Wahai sayangku, saya memang percaya kepada kamu, tetapi jika ini daging yang saya beli, maka mana kucing saya; dan jika ini kucing saya, maka mana daging milik saya!"
Terlepas dari lelucon itu, izinkan saya menegaskan bahwa saya tidak ingin mempertentangkan perkara ini berdasarkan ajaran-ajaran Yesus yang asli dan benar. Makalah ini murni merupakan suatu sikap dalam memandang doktrin-doktrin Kristen masa sekarang yang kami percayai telah mengalami penyimpangan jauh dari ajaran-ajaran asli Yesus.
Setelah ditolak bahwa di dalam Bible terdapat rujukan untuk menyembah Yesus, tinggal bagi kita menjelaskan satusatunya referensi yang.berkaitan dengan itu, di dalam Lukas 24:52. Banyak yang mengaku bahwa ayat-ayat ini membuktikan bahwa Yesus sendiri mendesak para pengikutnya untuk menyembah beliau. Para ilmuwan Kristen zaman sekarang tahu betul bahwa ayat-ayat ini terbukti palsu dan tidak berhak disikapi sebagai bagian asli Injil Lukas.
Mari kita beralih pada masalah kebiasaan yang berlaku secara umum, apakah hal itu didukung oleh bukti dalam Injil-injil atau tidak? Berdasarkan kebiasaan yang berlaku secara umum, di banyak sekte Kristen masa kini, Yesus memang disembah sebagai Anak Tuhan, akan tetapi mereka semua sepakat bahwa Yesus yang mereka sembah itu selalu menyembah Tuhan Bapak dan hanya pada-Nya.
Dengan sia-sia saya sering menanyakan kepada para ilmuwan Kristen yang berpengetahuan tinggi, apa dasarnya sehingga Yesus harus menyembah Tuhan Bapak bila beliau sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan dan benar-benar menyatu dengan-Nya sehingga menimbulkan kemanunggalan meskipun terdapat tiga oknum? Apakah beliau pemah menyembah oknum ketiga dalam Trinitas, yaitu Ruhul Kudus? Apakah beliau pemah menyembah diri beliau sendiri?
Apakah Ruhul Kudus pemah menyembah Yesus? Apakah Tuhan Bapak pernah menyembah salah satu dari kedua oknum lainnya? Jika tidak, mengapa? Mungkin jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan ini akan memaksa orang-orang Kristen mengakui bahwa suatu superioritas nyata sangat pasti dimiliki oleh Tuhan Bapak atas kedua oknum lain dalam Trinitas. Dari hal itu tampak bahwa ketiga oknum Trinitas tidaklah sama dalam status mereka. Oleh karenanya mereka merupakan "Tiga dalam Tiga," jika mereka memang tiga, tetapi mereka bukanlah "Tiga dalam Satu."
Kadang-kadang tatkala para ilmuwan Kristen dihadapkan pada pesoalan Yesus, yang mereka imani sebagai Anak Tuhan, yakni Yesus sendiri menyembah Tuhan Bapak, maka mereka menyatakan bahwa unsur manusia [dalam diri Yesus] lah yang melakukan penyembahan terhadap Tuhan Bapak, bukan Yesus Anak Tuhan yang melakukannya. Hal itu membawa kita kembali kepada pembahasan yang telah kita lakukan sebelumnya. Apakah di situ terdapat dua wujud sadar yang menguasai tubuh Yesus yang sama, yakni yang satu menguasai kesadaran sebagai manusia dan satu lagi menguasai kesadaran sebagai Anak Tuhan?
Sekali lagi, mengapa si manusia itu telah melewati dan benar-benar mengabaikan si Anak Tuhan yang ada dalam dirinya dan tidak pernah menyembah Kristus? Manusia Yesus yang sama, rekan [satu tubuh] Kristus, seharusnya juga menyembah Ruhul Kudus si oknum ketiga, yang tidak pemah beliau lakukan.
Penyembahan adalah suatu perbuatan akal pikiran dan jiwa yang kadang-kadang diungkapkan dalam simbol-simbol [gerakan] tubuh, tetapi perbuatan itu tetap berakar pada jiwa dan emosi oknum yang melakukannya. Oleh sebab itu harus ditentukan siapa yang melakukan penyembahan tatkala Yesus Kristus menyembah Tuhan. Kita sudah menyimak skenario itu, dengan segala, keruwetannya, yang mana Kristus si Anak Tuhan lah yang telah melakukan penyembahan. Sebaliknya, jika [unsur] manusia [dalam diri Yesus] yang menyembah Tuhan Bapak dan jika dia tidak pernah menyembah Kristus, maka mengapa orang-orang Kristen menentang tauladan suci Yesus itu? Mengapa mereka mulai menyembah Kristus selain Tuhan, sedangkan Yesus si manusia tidak pernah menyembah rekannya, Kristus, meskipun sangat dekat dengannya.
Oknum-oknum Berbeda dengan Sifat-sifat yang Sama dan Seimbang
Sekali lagi mari kita amati sekarang, dari sebuah sudut lain kali ini, formula "Tiga dalam Satu" pada Trinitas sebagai tiga oknum berbeda yang benar-benar dan sungguh mirip satu sama lain. Dalam skenario ini kita tidak berbicara tentang seorang oknum tunggal dengan ciri-ciri berbeda yang telah terangkai menjadi satu, tetapi dalam tiga bentuk terpisah, lebih menyerupai kembar tiga. Kita merujuk pada jenis kembar tiga yang benar-benar mirip sehingga kemiripan mereka tidak berakhir pada kesamaan bentuk saja, tetapi juga meliputi seluruh proses pemikiran dan perasaan. Mereka mengalami sama-sama secara identik pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan, dan pengalaman-pengalaman mereka. Dalam kasus ini orang harus mengakui bahwa dua dari ketiga oknum Trinitas memiliki kelebihan. Jika mereka menghapuskan [kelebihan] tersebut, maka tidak akan sempuma oknum lainnya dalam Trinitas.
Alquran Suci juga mengetengahkan persoalan yang sama ketika memaparkan bahwa jika Tuhan memutuskan untuk memusnahkan dan menghapus keberadaan Yesus Kristus dan Ruhul Kudus, apa perbedaan yang timbul pada Keagungan, Keabadian dan Kesempumaan-Nya, dan siapa yang dapat menghalangi-Nya berbuat demikian (QS 5:18). Hal itu secara tidak langsung menyatakan bahwa segenap sifat Tuhan akan berfungsi secara abadi, dan dalam kondisi demikian konsep Trinitas seperti yang telah digambarkan dalam skenario ini tampil tidak bermakna dan tidak berguna.
Akan tetapi jika diandaikan, ketiga oknum berbeda yang terdapat dalam Trinitas itu menjalankan fungsi-fungsi berbeda, maka jelas bahwa ketiga komponen itu akan menjadi sangat penting untuk membentuk [rangkaian] Tuhan. Meskipun demikian, dalam kasus ini terdapat tiga Tuhan berbeda yang bekerja-sama satu sama lain dan hidup bersama dalam keharmonisan sempuma, dan dalam kondisi demikian mereka hanya dapat diperlakukan sebagai "Tiga Tuhan dalam Tiga," bukannya "Tiga Tuhan dalam Satu."
Sekali lagi, jika dikemukakan bahwa Trinitas adalah sama seperti kasus satu oknum tunggal dengan tiga fungsi organ yang berbeda, kesemuanya terjalin dalam kemanunggalan, maka sudah tentu Keesaan dapat dipertahankan, bukannya Trinitas. Di sini kita tidak membicarakan tentang satu oknum tunggal dengan fungsi--fungsi organ yang berbeda, tetapi tiga oknum yang benarbenar mirip, dan masing-masing melakukan fungsi-fungsi yang sama tetapi tetap memiliki kepribadian sendiri. Apa yang telah dibahas ini memaparkan kasus satu oknum tunggal dengan organ-organ berbeda. Jadi, sejauh ini tidak ada yang tidak masuk akal dalam hal itu.
Namun, ketika organ-organ diperlakukan sebagai oknum-oknum dengan hak mereka masing-masing, dan pada saat yang sama mereka dipercayai sebagai satu kepribadian yang dalam keterpaduannya merupakan tunggal, maka batas-batas logika pun dilanggar dan seluruh pembahasan menjadi tidak layak diakui. Memang organ-organ memiliki kepribadian mereka sendiri, tetapi kepribadian mereka hanya merupakan sebuah komponen dari sebuah kepribadian lebih besar, yang tidak hanya terdiri dari satu organ tetapi juga organ-organ lain. Seluruh organ tersebut dalam perpaduan mereka bersama dalam diri seorang manusia, disebut "manusia seutuhnya".
Memang beberapa organ menjalankan fungsi-fungsi yang relatif kecil, dan manusia dapat saja tetap menjadi manusia tanpa keberadaan organ-organ tersebut, hanya saja tidak sempurna. Seorang manusia sempurna harus memiliki seluruh organ yang umum dimiliki oleh seorang manusia dan perpaduan seluruh organ ini membuatnya menjadi seorang manusia sempurna.
Jika kita mengambil kasus seorang manusia yang disebut Paul, orang tidak dapat mengatakan bahwa dikarenakan hati, jantung, paru-paru dan ginjal Paul memiliki individualitas dengan fungsi-fungsi khusus yang harus dijalankan, maka [organ-organ] itu merupakan oknumoknum berbeda yang secara menyeluruh persis seperti Paul. Kemiripan total hanya mungkin [terjadi] apabila, katakanlah, ginjal-ginjal itu berfungsi persis seperti Paul dalam keseluruhan dirinya, dan hal yang sama dapat dikatakan bagi organ-organ lain miliknya. Hal ini menghendaki bahwa tidak adanya masing-masing organ itu tidak akan merubah sifat Paul dalam makna apapun, atau pada pilihan lain, Paul tanpa paru-paru, hati, ginjal dan otaknya, dan segenap organnya dicabut, tetap akan merupakan seorang Paul yang sempuma dirinya. Hal itu disebabkan pada analisa terakhir, mereka semua benar-benar identik satu sama lain, dan si oknum Paul tetap utuh secara mutlak, terlepas dari tidak adanya organ-organ tersebut.
Jika, demikian skenario "Tiga dalam Satu," maka sudah tentu keliru untuk mencoba melakukan kritikan terhadap kepercayaan Kristen dengan merujuk pada logika. Dan logika yang dapat diterapkan terhadap dogma Kristen zaman sekarang ini hanyalah logika si nenek sihir Macbeth ketika mereka mengatakan: "Adil adalah curang, dan curang adalah adil." (Fair is foul, and foul is fair).
Selengkapnya =>>
Jumat, 15 Agustus 2008
Trinitas (1)
Sejauh ini kita hanya menelaah hal-hal pokok yang mengarah kepada terciptanya dongeng-dongeng mempertuhankan Yesus dan apa yang disebut peran beliau dalam Trinitas sebagai Anak Tuhan. Namun, oknum ketiga dalam dogma Trinitas Kristen, yakni Ruhul Kudus, merupakan sebuah teka-teki. Mengapa "Dua dalam Satu" tidak mencukupi, dan mengapa harus mengemukakan pihak ketiga dalam doktrin dasar ini? Secara akal, oknum ketiga ini tidak memiliki kebenaran untuk menempati sebuah posisi dalam konsep Kristen tentang tuhan-tuhan.
Harnack, seorang penafsir dalam masalah ini, merasakan bahwa pada mulanya, Kristen diwakili oleh suatu tuhan gabungan, yaitu Tuhan dan Yesus. Kemudian meliputi gereja, [dan] menyebutnya sebagai Ruh, untuk menambahkan elemen ketuhanan kepada apa yang jika tidak demikian akan menjadi partner ketiga yang hampa dan tidak masuk akal. Hal ini juga berfungsi sebagai alat ampuh anti Yahudi.1 Pendeta K.E.Kirk dalam eseinya, The Evolution of the Doctrine of Trinity, telah mengatakan hal berikut ini untuk masalah yang sama:
Kita secara alamiah beralih kepada para penulis zaman itu untuk mengetahui apa yang menjadi landasan bagi keimanan mereka. Kami terkejut, ternyata kami terpaksa mengakui bahwa mereka tidak memiliki landasan apa pun. Pertanyaannya sebagaimana yang tampil bagi mereka tidak hanya ‘mengapa’ tiga oknum? Melainkan, lebih cenderung ‘mengapa tidak?'
Dia terus menunjukkan kegagalan total teologi Kristen untuk menciptakan pembenaran/dukungan logika bagi doktrin Trinitas dan ketiga tuhan Kristen dapat dijelaskan secara pokok sebagai konsep sepasang tuhan yang padanya dipautkan oknum ketiga yang berbeda, untuk membuat gambaran yang lebih sempurna.2
Kami percaya bahwa oknum ini secara bertahap berubah di bawah pengaruh falsafah-falsafah dan dongeng-dongeng para penyembah berhala sebelumnya yang banyak terdapat di kerajaan Romawi. Pertukaran pemikiran tentunya telah membuat para theolog Kristen menetapkan posisi Ruhul Kudus. Dengan didapati banyaknya bukti keberadaan kepercayaan-kepercayaan seperti itu atau sekte-sekte yang menggambarkan Tuhan sebagai tiga oknum dalam satu wujud, tidaklah sulit untuk melacak kembali sumber asli doktrin Kristen tentang Trinitas. Ringkasnya, bila dua dapat menjadi satu, dan satu dapat menjadi dua, mengapa tidak tiga menjadi satu saja? Merupakan tugas para ilmuwan peneliti untuk menetapkan secara tepat bila dan bagaimana oknum ketiga dalam rangkaian tuhan Kristen telah mulai berakar kuat dalam dongeng Kristen, tetapi pada saat ini hal itu di luar pokok pembahasan. Di sini, kami hanya ingin menguji kemustahilan penda'waan-penda'waan semacam itu, yang telah ditolak langsung oleh pemahaman manusia. Fitrat manusia menolak dengan tegas pemikiran-pemikiran yang saling bertolak-belakang dan berupa paradoks.
Antar Hubungan dalam Trinitas
Apabila orang membayangkan hubungan sesama di antara ketiga oknum tuhan-tuhan Kristen, maka seknarioskenario yang mungkin timbul hanyalah sebagai berikut:
a) Mereka memiliki tahapan-tahapan dari aspek-aspek yang berbeda dari satu oknum tunggal.
b) Mereka merupakan tiga oknum berbeda, yang samasama menikmati keabadian setara di antara mereka.
c) Mereka merupakan tiga oknum dengan beberapa sifat individual yang berbeda dan sama sekali tidak dimiliki oleh yang lain.
d) Mereka merupakan tiga oknum dalam satu, dengan sifat yang seluruhnya sama dan kekuatan-kekuatan yang setara, bergabung satu sama lain, dan tanpa fungsifungsi yang terpisah satu sama lain.
Kita akan bahas masing-masing kemungkinan secara berurutan.
Tahapan-tahapan dan Aspek yang Berbeda dari Satu Oknum
Kemungkinan pertama tidak perlu dibahas panjang lebar sebab hampir tidak ada orang Kristen zaman sekarang yang lebih mengimani Yesus sebagai sebuah aspek atau salah satu fase Tuhan, daripada mengimani beliau sebagai satu oknum berbeda. Orang-orang yang percaya pada Trinitas bersikeras bahwa terdapat tiga oknum berbeda yang menyatu menjadi satu.
Pada saat seseorang mengakui skenario bahwa satu oknum memiliki aspek-aspek berbeda yang ditampilkan secara bersamaan, maka konsep Trinitas, yakni tiga tuhan dalam satu, akan menguap jadi udara, dan Trinitas tidak tersisa lagi. Sehingga, sang Tuhan Bapak lah, tergerak oleh kasih-sayang-Nya, yang mati demi dosa-dosa manusia. Dalam kasus ini hal itu hanya merupakan suatu fase peralihan dari oknum yang sama. Aspek-aspek bukanlah oknum, dan demikian pula fase-fase tidaklah menciptakan wujud yang terpisah. Manusia mana pun dapat menjalani berbagai macam perasaan dan aspek, tanpa harus terbelah menjadi dua atau tiga atau banyak oknum. Oleh karena itu, jika Tuhan memutuskan untuk mati demi manusia yang penuh dosa, itu adalah Tuhan sendiri dan bukan aspek-Nya yang melakukan hal tersebut.
Oleh sebab itu, mengenai kasus yang menjadi perhatian ini, yakni aspek Tuhan yang telah memainkan sebuah peran vital dalam pengorbanan Tuhan demi manusia yang penuh dosa, hanya dapat dipahami sebagai penampakan satu sifat-Nya. Jadi, jika sifat kasihsayang Tuhan itu sendiri diperlakukan sebagai seorang 'oknum' dan oknum tersebut telah dinamakan Yesus Kristus, maka yang telah mati itu adalah 'kasih-sayang' Tuhan. Sungguh merupakan kontradiksi aneh, bahwa kasih-sayang Tuhan karena iba terhadap manusia yang penuh dosa lalu melakukan aksi bunuh diri. Hal itu secara tidak langsung mengungkapkan bahwa selama tiga hari tiga malam tidak ada sifat kasihsayang yang tertinggal pada diri Tuhan.
Ingat, dalam skenario ini, Yesus tidak diperlakukan sebagai suatu oknum terpisah yang berdiri sendiri, melainkan hanya sebagai sebuah sifat atau aspek Tuhan, yang dalamnya beliau menjadi semacam kasih-sayang yang menjelma sebagai wujud. Akan tetapi wujud ini tetap merupakan satu unsur yang tidak terpisahkan dari Tuhan. Jadi, jika ada yang telah mati dalam proses tersebut, hal itu mestilah wujud Tuhan, atau sifat kasih-sayang-Nya yang telah memainkan peran sangat vital dalam episode ini. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain kecuali mempercayai kematian sifat kasih sayang Tuhan, atau kematian Tuhan Yang Maha Pengasih itu sendiri.
Banyak kerumitan yang timbul dari penda'waan bahwa aspek-aspek seorang oknum tunggal dapat dihapuskan dari keberadaannya, untuk sementara atau selamanya. Skenario ini hanya dapat dipahami dalam kaitan dengan penerapannya pada apa yang dialami manusia. Seorang manusia dapat kehilangan penglihatan atau pun pendengaran untuk sementara atau selamanya, tetapi dia tetap merupakan orang hidup yang sama. Kematian suatu kemampuan, memang merupakan kematian parsial bagi orang yang sama. Dalam analisa utama, orang yang kehilangan atau mengalami hal itu tetap merupakan orang yang sama.
Oknum-oknum Berbeda Menikmati Keabadian Bersama
Jika elemen-elemen rangkaian tuhan Kristen merupakan tiga oknum berbeda yang secara bersamaan menikmati keabadian, pertanyaan yang timbul adalah tentang hubungan internal mereka. Jika mereka secara azali merupakan tiga oknum yang membentuk satu tuhan, maka mereka tentu memiliki ego masing-masing, sehingga penderitaan salah satu di antara mereka, jika memang dapat menderita, merupakan hal yang dialami oleh oknum itu sendiri secara pribadi. Yang lainnya dapa bersimpati terhadapnya, tetapi secara nyata tidak dapat ikut dan merasakan penderitaan itu. Sudah tentu hampir tidak mungkin membayangkan cara kerja pemikiran dan proses pengambilan keputusan pada Tuhan, tetapi penda'waan bahwa Dia benar-benar terdiri dari tiga oknum yang bergabung jadi satu, membenarkan suatu upaya untuk 'mengaitkan tiga proses pemikiran yang berdiri sendiri.
Satu skenario yang mungkin timbul adalah, tentang seorang anak manusia yang lahir dengan tiga kepala. Ketiganya dapat dinyatakan sebagai satu oknum tunggal, berdasarkan pada keberadaan hanya satu tubuh saja dan sepasang tungkai serta lengan, tetapi ketiga kepala menampilkan permasalahan dalam menyatakan kondisinya yang sebenamya. Jika keanehan alam seperti itu hidup cukup lama untuk mampu berbicara dan memaparkan sendiri diri mereka, barulah kita dapat menyelidiki apa yang berlangsung di dalam ketiga kepala yang berbeda itu. Dengan tidak adanya pengetahuan tentang itu, menyatakan mereka sebagai satu oknum yang berkongsi memiliki tiga akal pikiran, atau tiga oknum yang berkongsi memiliki satu tubuh, tidaklah mungkin.
Anehnya, aspek sangat penting dalam doktrin Kristen ini sama sekali tidak diuraikan dalam Bibel. Sejauh yang berkaitan dengan rujukan tentang Kristus dan Ruhul Kudus, tidak kurang bukti yang menyatakan bahwa mereka ditampilkan sebagai dua oknum berbeda, yang tidak berkongsi dalam hal proses pemikiran yang sama dan perasaan-perasaan yang sama. Jika tidak, bayanganbayangan Ruhul Kudus yang berbeda dengan Kristus akan tidak mungkin dipahami, khususnya selama periode ketika Yesus terkurung dalam tubuh manusianya.
Pertanyaan-pertanyaan yang pasti timbul berkenaan dengan apa yang benar-benar telah terjadi pada oknum Kristus selama pengalaman tersebut, dalam kaitannya dengan dua oknum lain pada sosok tuhan Kristen adalah:
Apakah kedua oknum lainnya, yakni Tuhan Bapak dan Ruhul Kudus, bersama-sama menghuni tubuh Yesus Kristus atau sama-sama mengalami pengalamanpengalaman beliau dalam kaitan mereka dengan tubuh itu?
Apakah Yesus sendiri yang menghuni tubuh tersebut, dan dengan demikian beliau tidak mengikut-sertakan kedua oknum Trinitas lainnya dalam pengalaman beliau yang berkait dengan tubuh itu?
Penjabaran nomor satu sudah dibahas. Berkenaan dengan nomor dua, kerumitan lebih lanjut timbul mengenai hubungan Yesus, pada waktu itu dengan kedua oknum Trinitas lainnya. Apakah Yesus merupakan wujud yang terpisah sepenuhnya saat itu, atau beliau tetap merupakan bagian integral dari kedua oknum lainnya, hanya saja beliau memiliki kelebihan menghuni sebuah tubuh manusia secara terpisah? Sekarang kita memiliki pertanyaan lain untuk dijawab:
Apakah wujud ketuhanan beliau sepenuhnya terkandung dalam tubuh manusia beliau, ataukah hanya muncul sendirian keluar dari bentuk Tuhan Bapak dan Ruhul Kudus yang dimiliki bersama-sama, seperti sebuah jari kecil yang muncul dari tubuh seekor amuba?
Skenario ini juga akan memaksa kita mempercayai bahwa selama fase tersebut Yesus lebih hebat dari kedua oknum lainnya, sebab beliau sama-sama mengambil bentuk keberadaan wujud dengan Tuhan Bapak dan Ruhul Kudus, sedangkan kedua lainnya tidak menempati wujud manusia beliau.
Oleh sebab itu, untuk membuat persoalan ini lebih mudah dimengerti, dilakukan upaya untuk memberikan ilustrasi pada pikiran mereka, hati mereka, perasaanperasaan mereka dan fungsi-fungsi organ mereka berada dalam suatu keterpaduan sempurna sedemikian rupa sehingga pengalaman individu masing-masing mereka dapat dirasakan oleh yang lain secara penuh. Jika hal ini terjadi, ,maka Trinitas antara Tuhan, Anak dan Ruhul Kudus jadi lebih dapat dimengerti. Namun, tetap saja masih ada persoalan menyangkut tiga tubuh yang mengandung tiga oknum identik. Hal ini sudah tentu tidak dapat diterapkan pada pemahaman Trinitas Kristen.
Pada pandangan kedua, orang terpaksa membayangkan satu tubuh yang memiliki tiga identitas. Tetap saja, identitas demikian yang dimiliki oleh apa yang disebut kembar tiga, hanya dapat dibayangkan apabila satu tubuh mengandung tiga oknum, yang di dalamnya sendiri tampil banyak permasalahan. Akan tetapi dapat dijelaskan bahwa Tuhan tidak mempunyai tubuh, dan sesuatu yang menyerupai tubuh manusia, seperti yang telah dikemukakan, tidak dapat diterapkan untuk-Nya. Sudah tentu, kami sepenuhnya mengerti bahwa Tuhan tidak mempunyai tubuh seperti dalam istilah manusia, tetapi tetap masih ada permasalahan mengenai tiga wujud ruhani sebagai kembar tiga yang identik, secara individu mereka adalah oknum-oknum, tetapi yang merupakan satu dalam semua segi lainnya.
Permasalahan lain yang akan menghadang keberadaan [tuhan] kembar tiga secara hipotesa adalah hubungan mereka dalam kaitan dengan penyembahan. Apakah oknum-oknum ruhani "Tiga dalam Satu" rangkaian tuhan [Kristen] itu saling menyembah satu-sama lain? Apakah mereka semua akan memperoleh penyembahan dari makhluk-makhluk ciptaan mereka tanpa mereka harus menyembah dalam hubungan mereka satu sama lain?
Walaupun pemaparan berulang kali terdapat di dalam Perjanjian Baru bahwa Yesus Kristus yang menyembah Tuhan Bapak dan mengingatkan orang lain untuk melakukan hal sama, tetapi tidak ada penjelasan yang telah dibuat mengenai penyembahan Ruhul Kudus terhadap Tuhan Bapak. Dan lagi, tidak pernah ada upaya Yesus, seperti yang tertera dalam Perjanjian Baru, untuk mendesak orang-orang lain agar menyembah beliau atau menyembah Ruhul Kudus. Orang jadi bertanya-tanya, sebab tidak ada rujukan tentang penyembahan selain yang berkaitan dengan Tuhan Bapak.
Walaupun sudah merupakan tradisi umum di kalangan umat Kristen untuk menyembah Yesus sebagai Anak Tuhan bersamaan dengan Tuhan Bapak, tidak ada contoh-contoh yang tercatat tentang seorang murid Yesus Kristus pemah menyembah beliau, atau Yesus mendesak mereka untuk melakukan hal itu selama beliau menetap di bumi. Bahkan kalau pun beliau pemah berbuat demikian, hal itu akan menimbulkan banyak pertanyaan yang tak terjawabkan. Demikian pula yang berlaku bagi Ruhul Kudus, dan timbul pertanyaan, mengapa Ruhul Kudus tidak meminta siapa pun untuk menyembahnya.
Dalam masalah bahwa mereka adalah "Tiga dalam Satu" dalam arti bahwa ego utama mereka atau kesadaran akan keberadaan mereka tetap satu, walaupun terbagi dalam tiga aspek atau fase, telah dipelajari panjang lebar. Suatu wujud yang demikian secara logika tidak dapat disebut "tiga oknum dalam satu." Selain itu, aspek-aspek atau fase-fase tidak pemah disembah dan tidak pula mereka menyembah ego sentral mereka. Untuk memahami mereka sebagai oknumoknum yang terpisah, mereka harus memiliki identitas masing-masing yang berdiri sendiri, dalam bentuk ego pokok yang memberikan rujukan pada kesadaran mereka sebagai oknum-oknum. Jika tidak, masalah rujukan terhadap diri mereka dan lainnya sebagai "saya", "kamu" dan "dia," tidak akan timbul.
Trinitas yang diterapkan bagi satu wujud hanya akan dapat dipahami sebagai sifat-sifat dan tidak lebih dari itu.
Dan sejauh yang berkaitan dengan sifat-sifat, sudah pasti tidak terbatas hanya sampai tiga saja. Tidak peduli apakah kita tahu atau tidak, Tuhan pasti memiliki berbagai sifat.
Untuk menyimpulkan pembahasan ini, kami menegaskan kembali bahwa masalah penyembahan dalam kaitan antara mereka satu sama lain hanya dapat timbul jika mereka merupakan oknum-paradoks dan kemustahilan yang sudah menjadi bawaan itu dengan cara membayangkan kondisi telaahan yang berbeda. Sudah tentu, ilustrasi-ilustrasi ini hendaknya jangan dipahami secara harfiah oleh para pembaca.
Permasalahan yang ada di hadapan kita adalah, apakah seorang oknum tunggal itu menampilkan sifat-sifat yang berbeda atau menjalani fase-fase yang berbeda. Hal ini membawa kita pada pertanyaan tentang masalah "Tiga Wujud dalam Satu" dan "Satu Wujud dalam Tiga," khususnya dari segi fase-fase yang berbeda satu sama lain; dan penampakkan sifat-sifat serta suasana hati yang berbeda oleh oknum yang sama.
Masalah ini telah disinggung panjang lebar pada bab sebelumnya. Di sini, hal itu hanya perlu ditegaskan kembali pada permasalahan bahwa jika seorang oknum atau satu wujud menampilkan fase-fase yang berbeda, ia tidak dapat menampilkan fase-fase berbeda tersebut secara bersamaan, tanpa membelah dirinya menjadi bagian-bagian yang berbeda.
Ambillah, misalnya, air dalam ukuran dan jumlah tertentu. Air itu dapat diubah seluruhnya menjadi uap atau es tanpa meragukan wujudnya yang tetap satu. Jika air itu secara simultan dicermati dalam fase-fase yang berbeda itu, ia harus dipecah menjadi sedemikian rupa sehinga sepertiga bagiannya akan menjadi es, sepertiga menjadi uap dan sepertiga lagi tetap mencair. Masing-masing bentuk akan berbeda satu sama lain, tanpa menjalani dua fase lainnya secara beriringan. Jumlah air akan terpecah menjadi tiga kondisi, tetapi ukurannya pasti akan lebih kecil dari seluruh substansi jika disatukan, dan tidak ada yang dapat menyatakannya "satu dalam tiga" dan "tiga dalam satu." Demikian pula, perwujudan Kristus dalam bentuk manusia Yesus, sementara tetap terjalin ikatan menyatu antara Yesus si manusia dengan Tuhan Bapak, adalah suatu hal yang tidak dapat dipahami.
Seluruh umat manusia terbentuk dari elemen-elemen yang sama, tetapi kemiripan dan kesamaan mereka satu sama lain tidak membuat mereka menjadi satu oknum tunggal. Adalah sifat-sifat,kepribadian-kepribadian dan keterpisahan mereka satu sama lain yang membuat mereka terbagi-bagi dalam banyak wujud, walaupun mereka pada hakikatnya terbuat dari substansi yang sama. Orang tidak dapat menyebut mereka sebagai "satu dalam lima milyar" dan "lima milyar dalam satu," walaupun mereka sama-sama memiliki unsur manusia.
Mari kita telaah pertanyaan yang sama dari sudut lain. Jika, dalam jangka masa tertentu, Yesus terpisah dan dapat dibedakan dari Tuhan Bapak di satu sisi, dan dari Ruhul Kudus di sisi lain maka di mana letak keterpisahan eksistensi Kristus yang berbeda itu? Ingat, orang harus memahami bahwa Kristus yang secara total berbeda dan terputus dari Tuhan Bapak dan Ruhul Kudus. pengorbanan beliau demi saudara-saudara manusia beliau, atau dapat kita katakan sebagai separuh saudara manusia beliau, harus dianggap sebagai pengalaman pribadi beliau sepenuhnya, berbeda dari Tuhan Bapak atau Ruhul Kudus. Hal ini secara jelas menghasilkan pertimbangan kami bahwa Kristus seorang diri yang mentransfer akal pikirannya atau proses pemikirannya kepada tubuh jasmani Yesus. Demikian pula dapat dipahami bahwa beliau menjalani suatu pengalaman yang tidak dialami oleh dua unsur lainnya dalam Trinitas Kristen. Memusingkan kepala, tidakkah demikian?
1. Harnack. Constitution and Law of the Church, E.T. p 264 116
2. Essay on the Trinity and the Incarnation, diedit oleh A.E.J. Rawlinson, Logmans, London (1928)
Selengkapnya =>>